Saturday, 17 November 2018

Bang Jalil Tebar Pesona

Sabtu, 27 Februari 2016 — 5:47 WIB

BANG JALIL pagi-pagi buta sudah berada di pinggiran kali. Matanya memandang ke air yang keruh. Terbayang ketika dia masih anak-anak, mandi di kali tersebut bersama kawan-kawan sebayanya. Nggak terbayang, kalau kali yang dulu airnya mengalir bening dan dalam itu sekarang hitam pekat, dan penuh sampah.

“ Ngapain Bapak pagi-pagi ke kali, mao mancing?” tanya sang istri sambil menyiapkan kopi.

Bang Jalil nggak buru-buru menjawab, dia malah sibuk mengelap keringatnya, maklum dia tadi naik sepeda ke kali yang jaraknya sekitar lima kilometer dari rumahnya.

“Ikannya juga nggak bisa hidup di air keruh kayak gitu?” kata istrinya lagi.

Bang Jalil masih diam, dia menyeruput kopinya. Seruputtt!

Tiba-tiba HP-nya berdering; “ Halo, o betul saya Bang Jalil, baru saja saya blusukan. Besok dan besoknya lagi, saya terus mau blusukan. Besok saya ke pintu air, ke bendungan, ke danau , ke pinggir laut,lihat pompa-poma penyedot banjir. Ya,ya, berikutnya ke pasar, ke kampung-kamung kumuh…o, nggak bakalan ngegusur, tenang aja…”

Bang Jalil diam sejenak mengatur napas, dan katanya lagi,” Pokoknya soal tebar pesona, siapa takut?”

“ Telepon dari mana Pak?” selidik sang istri.

“ Dari pantia pemilihan gubernur!” jawab Bang Jalil.

“ Lho, Bapak mau nyalonin gubernur?” tanya sang istri, iseng.
Ditanya begitu oleh sang istri, Bang Jalil nggak menjawab. Bukan apa-apa. Kan dia bukan politikus, ahli hukum, aktivis, pengusaha atau musikus yang bisa mencalonkan kepala daerah,ya?

“ Gimana Pak, besok mau blusukan lagi?” tanya sang istri.

“ Besok giliran Bapak masuk, jaga kantor!” katanya.

“ O iya ya. Bapak kan sekuriti, ya?”

Bang Jalil, diam. Diam itu emas! Hehehhe….! -massoes