Wednesday, 26 September 2018

Celakanya Punya Bini Cantik Dibuat Bancakan Adik-Kakak

Sabtu, 27 Februari 2016 — 5:47 WIB

JIKA punya istri targetnya hanya cantik dan kaya, nasibnya bisa seperti Wakidin, 37, dari Surabaya ini. Berharap dapat warisan, ternyata istri hanya anak angkat. Paling menyakitkan, kecantikan Sulis, 33, justru dimanfaatkan kakak dan adiknya. Mereka ikut pula menggauli bak istri sendiri. Kaco!

Hadist Nabi mengatakan, pilihlah istri itu karena agamanya, bukan karena kecantikan dan hartanya. Dengan agama, Insya Allah selamat dunia akhirat. Kalau hanya tertarik kecantikannya, nanti usia 60 tahun ke atas jadi bosen. Jika tertarik hartanya, jika sudah miskin dibuang pula. Maka bila memilih bini karena agamanya, Insya Allah dua-duanya dapat. Ya cantik seperti Paramitha Rasudi, ya kaya seperti Angelina Sondakh, tapi duluuuuuuu……

Wakidin warga Kenjeran, Surabaya, ini menikah agak kasep karena menentukan syarat terlalu tinggi. Ya cantik, ya kaya. Maka setelah bertahun-tahun mencari tipe idealnya, baru dapat ketika usia sudah kepala tiga. Cong-congannya adalah Sulistyawati, anak orang kaya dan wujud serta penampilannya memang oke punya. Cantik, bodi seksi, sekel nan cemekel. Poknya anget, begitulah.

Sebetulnya teman-teman sudah mengingatkan, biar cantik, Sulis ini tidak beres alias geleman. Tapi Wakidin nekat, yang penting dia cantik. Lagi-lagi teman menasihati. Sekarang Sulis memang cantik seperti Param-ita Rusadi. Tapi 40 taun kemudian, pasti bakal pakai param…. kocok terus karena penyakitan. Maka teman-teman menganjurkan, cari bini itu dari budi pekertinya. Dijamin bakal berbahagai.

Ternyata benar, apa yang jadi target Wakidin meleset. Sebulan menikah ketahuan, Sulis ini hanya anak pungut, sehingga tak dapat hak warisan. Tinggal kecantikan yang masih bisa diandalkan. Sebab setelah 6 bulan menikah, ternyata begini-begini saja. Maka benar kata orang, perempuan itu seperti kue biskuit. Bentuk boleh macem-macem, tapi rasanya sama saja.

Wakidin memang mulai jenuh. Paling menyakitkan, istrinya ini diincar pula oleh kakak kandungnya, Maridi, 40. Sekali waktu dia memergoki Sulis dibawa kakaknya ke sebuah hotel, untuk “dieksekusi” karena sudah mau berkoalisi. Ributlah kakak beradik itu, tapi orangtua berhasil mendamaikan, karena keduanya ibarat anak berebut mainan.

Tapi lain waktu, kembali Wakidin melihat pemandangan yang menyesakkan dada. Di kamar lain dalam rumahnya, terlihat Sulis sedang digauli oleh adiknya, Mistam, 30. Maka bila tempo hari ribut sama kakak, kini ngajak berantem sama adiknya. Lagi-lagi orangtua yang repot harus memisahkan keduanya.

Dari kedua skandal tersebut, Wakidin baru tahu bahwa istrinya selama ini dibuat piala bergilir oleh Maridi dan Mistam. Hari ini bersama Maridi, besoknya lagi bersama Mistam. Ibarat ayam ingkung, Wakidin selaku pemilik domain hanya kebagian tulangnya doang. Sekarang Wakidin baru sadar, punya bini cantik justru menyiksa jiwa dan raganya. Maka dia segera menggugat cerai ke Pengadilan Agama Surabaya.

Besok mau cari yang jelek, yang penting bukan anggota LGBT. (JPNN/Gunarso TS)

  • Marsono

    Suatu saat Bapaknya Wakidin ikut juga menggauli.