Thursday, 15 November 2018

Salat Gerhana Matahari Hilangkan Mitos yang Menjurus Syirik

Rabu, 9 Maret 2016 — 7:27 WIB
Pembagian sedekah seusai salat gerhana oleh tokoh masyarakat. (Saban)

Pembagian sedekah seusai salat gerhana oleh tokoh masyarakat. (Saban)

BEKASI (Pos Kota)-Pelaksanaan salat gerhana matahari total (GMT), Rabu (9/3) di sejumlah kecamatan wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi, berlangsung khusuk.

Mesjid dan lapangan, yang menyelenggarakan salat GMT, terlihat penuh. Ini kemungkinan karena bertepatan dengan hari libur nasional, sehingga kesempatan untuk melaksanakannya ada.

“Syukur Ahamdulillah, dengan shalat gerhana matahari ini, kita mengikis habis ritual-ritual yang mangaitkan gerhana matahari dengan mahluk jahat dan menjurus keperbuatan syirik,” ujar Ustad Luthfi, pengurus Masjid Jami Baiturrahman, saat dihubungi Pos Kota.

Pengikisan mitos-mitos itu, memang harus dilakukan melalui penjelasan dan praktik apa yang harus dilakukan, “Jangan hanya melarang, tetapi tidak memberitahu apa yang seharusnya dilakukan sesuai tuntunan nabi,” kata Luthfi, didampingi Ustad Manshur, Ketua DKM Jami Baiturrahman.

Sebelum salat, jamaah melakukan dzikir dan doa. Salat gerhana dialukan dua rakaat, dengan ketentuan setiap rakaat terdiri dari dua kali ruku dengan dua kali pembacaan surat Al fatiha dan dua kali pembacaan surat lainnya.

Usai salat dilanjutkan dengan khutbah. Ustad Abdul Azis, selaku khotib menjelaskan soal penomena alam yang terjadi hanya 33 tahun sekali dan lebih banyak bersyukur apa yang sudah diberikan Allah SWT.

Jamaah nampak antusias mendengar khutbah dan usai shalat dianjurkan bersedekah.
Seperti yang dilakukan H Kusmana tokoh masyarakat di Mangunjaya, mereka mengumpulkan puluhan anak kecil dan memberikan sedekah Rp 10 ribu kepada setiap anak yang ikut salat gerhana. (Saban)