Sunday, 28 May 2017

Peluang Industri Kopi Masih Besar

Kamis, 10 Maret 2016 — 15:54 WIB
Menteri Perindustrian Saleh Husin didampingi Eddy Ganefo (Kiri), Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta Odang, dan Ketua Umum AEKI Irfan Anwar memperlihatkan biji kopi luwak pada Rapat Umum Anggota (RUA) IX Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) di Jakarta, 10 Maret 2016/Tri

Menteri Perindustrian Saleh Husin didampingi Eddy Ganefo (Kiri), Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta Odang, dan Ketua Umum AEKI Irfan Anwar memperlihatkan biji kopi luwak pada Rapat Umum Anggota (RUA) IX Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) di Jakarta, 10 Maret 2016/Tri

JAKARTA (Pos Kota) –  Peluang pengembangan industri pengolahan kopi di dalam negeri masih cukup besar karena potensi konsumsi kopi masih besar dan permintaan kopi dunia terus menanjak.

Indonesia menjadi negara penghasil kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Vietnam dengan produksi rata-rata sebesar 685 ribu ton per tahun atau 8,9 persen dari produksi kopi dunia.

Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, pertumbuhan kelas menengah dan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia turut mendorong konsumsi produk kopi olahan di dalam negeri meningkat rata-rata lebih dari 7 persen per tahun.

Untuk  meningkatkan nilai tambah, lanjutnya,  maka industri olahan baik oleh industri besar maupun kecil menengah mesti dipacu dan didukung oleh pemerintah serta masyarakat.

“Kita punya 11 kopi khas daerah, lazim disebut indikator geografis seperti kopi Gayo, Sindoro-Sumbing, Toraja. Belum lagi kopi yang diolah langsung rekan-rekan petani dan kelompok tani. Nah salah satu dukungan nyata bisa dilakukan saat kita jalan-jalan, belilah kopi-kopi di daerah yang kita sambangi,” katanya berpromosi, pada Pembukaan Rapat Umum Anggota (RUA) IX Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) di Jakarta, Kamis (10/3).

Saat ini sudah ada 11 kopi Indonesia yang telah mempunyai indikasi geografis yaitu Kopi Arabika Gayo, Kopi Sumatera Arabika Simalungun Utara, Kopi Robusta Lampung, Kopi Arabika Java Preanger, Kopi Java Arabika Sindoro-Sumbing, Kopi Arabika Ijen Raung, Kopi Arabika Kintamani Bali, Kopi Arabika Kalosi Enrekang, Kopi Arabika Toraja, Kopi Arabika Flores Bajawa, dan Kopi Liberika Tungkal Jambi.

Indonesia juga memiliki berbagai jenis kopi specialty yang dikenal di dunia, termasuk Luwak Coffee dengan rasa dan aroma khas sesuai indikasi geografis yang menjadi keunggulan Indonesia.

Minat Kaum Muda Pada Kopi

Menteri Saleh juga menyinggung soal antusiasme anak-anak muda melakukan perjalanan ke sudut-sudut Tanah Air. “Sekarang makin banyak anak muda yang gemar ‘travelling’. Nikmatnya jalan-jalan, salah satunya menyesap kopi setempat. Jangan lupa beli untuk oleh-oleh. Unggah fotonya saat selfie minum kopi buat promosi karena efektif turut membantu industri olahan kopi,” katanya.

Ekspor produk kopi olahan tahun 2015 mencapai 356,79  juta dolar AS  atau meningkat sekitar 8 persen dibandingkan tahun 2014. Ekspor produk kopi olahan didominasi produk kopi instan, ekstrak, esens dan konsentrat kopi yang tersebar ke negara tujuan ekspor seperti Filipina, Malaysia, Thailand, Singapura, China dan Uni Emirat Arab.

Sementara itu, nilai impor produk kopi olahan pada tahun 2015 mencapai 106,39 juta dolar AS, impor terbesar adalah Malaysia, Brazil, India, Vietnam, Italia dan Amerika Serikat. “Tapi neraca perdagangan internasional produk kopi olahan Indonesia masih mengalami surplus sebesar  250,40 juta dolar AS.” ujarnya.

Menururtnya, Kementerian Perindustrian terus  mendorong pengembangan industri perkopian di dalam negeri dari hulu sampai hilir sehingga meningkatkan nilai tambah dan daya saing kopi Indonesia di pasar internasional. (Tri/win)