Saturday, 22 September 2018

Warga dan Pengelola Kota yang Baik

Sabtu, 12 Maret 2016 — 5:34 WIB

Oleh S Saiful Rahim

“BAGAIMANA sih menjadi warga dan pengelola kota yang baik itu?” tanya seseorang yang baru masuk ke warung kopi Mas Wargo dan langsung duduk di bagian kosong bangku panjang.

“Kalau datang ke suatu tempat atau bertemu seseorang yang dikenal ucapkanlah assalamu alaykum. Itu salah satu tanda warga atau pengelola kota yang baik,” jawab Dul Karung sambil menelan singkong goreng yang belum dikunyah hingga lumat sebagaimana mestinya.

“Jangan berlebihan kau, Dul. Wargakota, meskipun yang tinggal di Mekah atau Medinah belum tentu beragama Islam,” bantah orang yang duduk selang tiga di kiri Dul Karung.

“Lha kalimat assalamu alaykum itu bukan hanya boleh diucapkan oleh dan untuk orang muslim saja. Itu ucapan salam netral seperti ucapan selamat pagi, selamat sore, atau selamat malam. Bedanya ucapan assalamu alaykum itu mengandung doa. Yaitu agar yang mendengar atau menerima salam itu mendapat keselamatan dan kesejahteraan,” jelas Dul Karung dengan sikap agak sok tahu.

“Kalau begitu orang yang menambahkan ucapan assalamu alaykum dengan kata-kata atau doa yang berbunyi salam sejahtera buat kita semua salah dong?” tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Salah sih tidak. Cuma berlebihan,” kata Dul Karung sambil menyeruput teh panas, manis, dan kental.

“Tapi menurut ustadz Marzuki ada hadis Nabi Saw yang menyatakan segala yang berlebihan itu mubazzir, dan mubazzir adalah perbuatan setan,” potong seseorang entah siapa dan yang mana.

“Sudahlah. Jangan warung kopi kalian jadikan majelis taklim. Sebab majelis taklim bukan tempat orang berutang. Artinya orang model Dul Karung nggak bakal dapat kapling di majelis taklim,” sela orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang, mengundang senyum dan ledakan tawa beberapa hadirin.

“Betul! Marilah kita kembali mencari definisi warga kota dan pengelola kota yang baik,” ajak Mas Wargo yang terdengar bijak.

“Kalau menurut Ahok, gubernur kita yang jempolan itu, warga kota yang baik adalah yang tak suka mengendarai kendaraan pribadi. Karena Jakarta sudah sempit,” kata orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung.

“Dan pengelola kota yang baik adalah yang tidak mencla-mencle. Suka mengubah-ubah aturan,” sambung orang yang duduk selang empat di kiri Dul Karung.

“Maksudmu?” tanya Dul Karung sambil menatap tajam ke arah orang bicara tersebut.

“Jangan bikin peraturan yang maju-mundur,” jawab orang itu tegas.

“Maksudmu?” tanya orang yang duduk tepat di kiri Dul Karung dengan kata yang sama persis dengan pertanyaan si Dul tadi.

“Itu, lho. Peraturan tentang APTB, Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway. Mulanya dengan peraturan itu mulai banyak warga kota penyanggah DKI Jakarta beralih dari kendaraan pribadi ke bus APTB. Karena bus-bus APTB bisa mengantar mereka masuk sampai ke jantung kota Jakarta.
Tetapi ketika kemudian izin trayek APTB dipersoalkan oleh Kementerian Perhubungan karena yang berhak mengeluarkan izin trayek antarprovinsi adalah Kementerian Perhubungan, maka Senin 7 Maret pagi Dinas Perhubungan DKI Jakarta melarang APTB masuk ke wilayah DKI Jakarta. Hanya boleh sampai halte terluar. Pelarangan mendadak itu menimbulkan protes dari para pengguna jasa APTB. Halte-halte terluar pun kisruh karena penumpang melimpah, dan armada Transjakarta yang jumlahnya telah ditambah pun tidak sanggup mengangkut. Akhirnya Senin sore larangan operasi APTB pun dicabut.

Gaya bikin dan cabut peraturan seperti itulah yang menurutku bukan contoh perbuaan pengelola kota yang baik,” kata orang itu yang lalu menyeruput kopi susunya.

“Ah, pusing aku mendengarnya,” kata Dul Karung seraya meninggalkan warung.( syahsr@gmail.com )