Thursday, 26 April 2018

Pejabat Rasa Narkoba

Senin, 21 Maret 2016 — 5:19 WIB

BUKAN mau memuji kehebatan narkoba. Tapi, ini kenyataan bahwa sebagian orang terperangkap kenikmatannya. Sebagian dari mereka itu adalah orang-orang yang tak mampu menjaga diri, dan harga dirinya.

Ya, mereka tergiur kenikmatan sesaat, dan lebih panjang penderitaannya kalau mengkonsumsi narkoba.

Semua paham, seseorang yang ketagihan narkoba, tidak putus-putusnya bahkan bisa sepanjang hayatnya akan ketergantungan.

Bukan itu saja, pecandu selain menghabiskan harta bendanya, ia juga tak mampu lagi berpikir jernih, tak mampu lagi bekerja dengan baik, tak mampu lagi bebuat apa-apa.
Lalu apa yang bisa diharapkan bagi para nakoba? Kalau ia anak muda, selesai sudah kandas harapan masa depannya. Buat diri sendiri saja tak berdaya.

“Jadi nggak mungkinlah bisa diharpkan buat orang lain, buat keluarga, bangsa dan negara. Mau jadi pejabat? Mau dijadikan apa rakyatnya? Coba bayangkan, kalau hakim, polisi, tentara, jaksa dan para pejabat, bupati pada pesta narkoba? “ itu suara Bang Jalil ketika bicara melalui HP.” Apa? O, saya sih bersih Pak. jangan kuwatir. Boleh dites. Kalau saya terbukti narkoba, saya sekarang juga mundur!”

“Ngomong sama siapa, Pak?” tanya sang istri.

“ Panitia pilkada. Ibu setuju nggak kalau Bapak nyalonin jadi Bupati?” tanya Bang Jalil pada sang istri.

“ Ah, Bapak becanda. Jangankan bupati, jadi RW aja Ibu seneng banget,” ujar sang istri sambil menaruh kopi di samping sang suami,” Tapi, Bapak kan nggak punya partai, jadi siap yang dukung?”

“Lewat jalur independen Bu.Tuh yang ngumpulin pendukung pakai foto copi KTP?”

“ Seandainya yang mendukung Bapak ada yang kena narkoba gimana, Pak?” tanya sang istri.

“ Dukungannya sah. Tapi, narkobanya No! Bapak nggak mau jadi bupati narkoba!” kata Bang Jalil tegas. –massoes