Saturday, 20 July 2019

Kemenkes Akan ‘Sweeping’ Pasien TB

Rabu, 23 Maret 2016 — 15:46 WIB
Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes M Subuh pada temu media. (Inung)

Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes M Subuh pada temu media. (Inung)

JAKARTA (Pos Kota) – Sekitar 30 ribu pasien tuberculosis (TB) terancam mengalami kebal obat atau multidrug resistant (MDR) setiap tahunnya. Mereka adalah pasien TB yang tidak menyelesaikan minum obat dengan berbagai alasan.

“Sejatinya jika diobati dengan benar maka TB bisa disembuhkan 6-9 bulan,” kata Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes Muhammad Subuh Rabu (23/3).

Menurut Subuh sebenarnya kunci pengobatan TB adalah kepatuhan pasien minum obat. Jika di tengah perjalanan pasien berhenti minum obat dan memutuskan tidak melanjutkan maka pasien TB akan mengalami TB MDR.

Subuh mengingatkan penanganan dan pengobatan TB MDR jauh lebih rumit dan mahal. Sebagai perbandingan pasien TB reguler hanya membutuhkan biaya sekitar Rp 1,2 juta per 6 bulan. Sedang pasien TB MDR bisa menghabiskan dana Rp 100 juta per tahun.

Karena itu Subuh meminta agar pasien TB displin minum obat. Diakui Subuh, Indonesia sudah melakukan banyak upaya agar mencapai eliminasi TB. Tetapi selama 15 tahun terakhir ini kasus TB masih belum juga bisa dieliminasi.

Karena itu Kemenkes akan melakukan ‘sweeping’ terhadap penderita TB. Targetnya dalam satu tahun bisa menemukan minimal 500 ribu pasien termasuk pasien TB MDR. Pencarian pasien TB ini dilakukan dengan pendekatan keluarga melalui gerakan TOSS (temukan pasien TB, obati sampai sembuh).

Selain itu juga memperluas akses pengobatan melalui puskesmas dan dokter umum. “Targetnya kita kurangi seminimal mungkin kasus TB,” pungkas Subuh. (Inung/win)