Thursday, 20 September 2018

Musimin, Anak Tukang Becak & Penjual Jamu Gendong, Kini Jadi Kapolsek

Selasa, 29 Maret 2016 — 10:04 WIB
Kompol Musimin SH, Kapolsek Cisarua. (yopi)

Kompol Musimin SH, Kapolsek Cisarua. (yopi)

SETIAP kali engkau memperbaiki niatmu, maka Allah akan memperbaiki keadaanmu. Dan setiap kali engkau mengharapkan kebaikan untuk orang lain, engkau akan mendapatkan kebaikan dari arah yang tak kamu sangka.

Filosofi inilah yang menjadi pegangan bagi anak ke tiga dari empat bersaudara ini.

Lahir dari anak pasangan dimana ayahnya berprofesi sebagai tukang becak dan ibunya seorang tukang jamu gendong, tidak membuat semangat lelaki ini minder. Justru sebaliknya, ia memiliki tekad dan semangat, bagaimana hidupnya bisa berguna bagi orang lain dari kesederhanaannya.

Musimin, itulah nama pria kelahiran Sukoharjo tanggal 6 Mei 1962 silam ini. Ia bercerita, dirinya tak ingin meratapi nasib, hanya karena terlahir dari orangtua yang penuh kesederhanaan. Tekad anak ke tiga dari empat bersaudara ini direstui Tuhan.

Ia dinyatakan lulus saat mendaftar sebagai calon polisi dan resmi berseragam cokelat tahun 1986.

Masuk kepolisian dari Polda Metro Jaya, ia lalu ditempatkan di Polsek Ciawi saat selesai pendidikan.

“Saya anak ke tiga. Kami semua empat saudara. Bapak dan ibu sangat memperhatikan pendidikan kami, walau ditengah keterbatasan. Saya masuk polisi lewat jalur Bintara. Saya daftar di Polda Metro Jaya. Begitu dinyatakan lulus, orangtua senang sekali,”kata Kompol Musimin.

Pilihannya menjadi penegak hukum, ia bulatkan, karena ingin mengabdikan diri kepada bangsa dan negara.

Jenjang kepangkatan berjalan seiring lamanya berdinas. Kini pria anak jamu gendong ini menyandang satu melati di pundaknya.
Atas pangkat perwira menengah (pamen) ini, kini ia dipercaya Kapolres Bogor, AKBP Suyudi Ario Seto untuk menjabat sebagai Kapolsek Cisarua.

Bahkan gelar sarjana hukum ia raih dengan nilai memuaskan dari STIH Jakarta.

Atas ketekunan menyelesaikan studi S1 ini, kini dibelakang namanya menempel gelar SH. Sebuah perjuangan yang patut di apresiasi.

Sang istri, Siti Rosmayani yang juga bergelar sarjana hukum (SH), setia mendampinginya.

Bahkan Kompol Musimin mengaku, hidupnya sangat sempurna kini, manakala wanita yang di nikahinya, kini telah memberinya tiga anak. “Tiga anak saya perempuan semua. Sempurna hidup saya,”katanya bersyukur.

Ia bertutur, selalu ada suka dan duka saat menjalankan tugas negara. Di kala gagal menangkap pelaku kejahatan yang di buru, ia kadang merasa sedih.

Namun ia tak terus meratapinya. Justru ia berpikir, kegagalan harus disikapi dengan sabar dan tawakal.

“Suka jadi polisi karena bersentuhan langsung dengan warga. Dukanya ya gagal dalam menangkap penjahat. Tapi semua itu saya bersyukur, karena saya memiliki teman dan mitra wartawan yang selalu mensuport.”

(yopi/sir)