Tuesday, 22 August 2017

Jualan Pecel Lele, Dulu di Gerobak Kini Rumah Makan

Kamis, 31 Maret 2016 — 0:32 WIB
Suprayitno di tempat usahanya (tri)

Suprayitno di tempat usahanya (tri)

PRIA lulusan SLTA ini sudah sepantasnya bangga. Meski sempat terlilit utang saat di kampungnya Lamongan, Jawa Timur, kini berkat wirausaha kuliner yang digelutinya, dia bisa mengantongi keuntungan hingga Rp200 juta pertahun.

Berbekal modal Rp2,5 juta, Suprayitno yang nekat ‘lari’ ke Jakarta membuka usaha pecel lele dan ayam di bilangan Cipinang Muara, Jakarta Timur. Gerobak usahanya yang diberi nama Tresno kini sudah menjadi rumah makan dan memiliki sembilan karyawan .

Berkat kerja keras dan keuletannya, pria berusia 44 tahun ini, kini omset usahanya mencapai Rp9 – Rp10 juta per hari dan sebulan keuntungan bersihnya lebih dari Rp15 juta/bulan atau hampir Rp200 juta/tahun.

“Dulu saya lakoni usaha ini berdua dengan isteri. Enam bulan pertama, adalah masa sulit karena hasil dagang hanya cukup untuk kontrak dan biaya kebutuhan,” tutur pria yang kerap dipanggil Pak Tresno.

MULAI
BUAHKAN HASIL

Usahanya mulai membuahkan hasil berkat suntikan dari keluarga di kampung sebesar Rp450 ribu. Dia mulai bisa menyimpan keuntungan mulai Rp20 ribu hingga Rp100 ribu per hari. “Kini sudah ada 9 karyawan yang membantu. Alhamdulillah bisa membantu tetangga dan keluarga dari kampung yang menganggur,” kata ayah tiga anak ini.

Usaha yang dijalaninya kini maju pesat. Jika dulu hanya menyewa tempat untuk gerobak usahanya, kini Pak Tresno, begitu dia biasa dipanggil bisa menyewa tempat tinggal dan tempat usaha sebesar Rp65 juta per tahun.

Rumah Makan ‘Tresno’ ini tidak lagi hanya menyediakan Pecel Lele dan Ayam, bebek serta nasi uduk saja, tapi juga ayam dan ikan bakar. Bahkan kini dia mulai banyak menerima pesanan nasi boks dari pelanggannya.

“Ini semua tidak akan terwujud tanpa dukungan isteri yang kuat dan tabah mendampingi. Alhamdulillah setelah 12 tahun semua utang sudah dilunasi, bisa bangun rumah di kampung dan membeli kendaraan.”

Wirausaha memang menjadi salah satu program Kementerian Ketenagakerjaan dalam mengatasi pengangguran. Karena itu usaha pak Tresno patut dibanggakan. Karena selain mandiri, dia berhasil membuka kesempatan kerja. Bahkan dua anak buahnya sudah mandiri, dan putera sulungnya juga segera membuka usaha ditempat lain.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dakhiri mengatakan, menyiapkan atau mencetak wirausaha bukan hal mudah dan bisa dilakukan secara instan.

Harus dibangun karakter mental kewirausahaan, selain kesadaran, dukungan keluarga, lingkungan kondusif serta peran pemerintah dan pihak lain sangat dibutuhkan. (Tri Haryanti)