Friday, 16 November 2018

Pro Kontra Three in One

Sabtu, 2 April 2016 — 6:05 WIB

Oleh S Saiful Rahim

“WAH bakal mati deh salah satu sumber pendapatan Dul Karung nih,” kata seseorang yang baru masuk ke warung kopi Mas Wargo, setelah mengucapkan assalamu alaykum.

Beberapa orang yang ada di warung menolehkan kepala ke arah orang tersebut.

“Apa maksudmu?” tanya orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung.

“Memangnya ada berapa banyak sih sumber pendapatan Dul Karung? Kalau pendapatannya banyak kok utangnya juga banyak, dan tidak pernah menyusut?” sambar orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang, sebelum pertanyaan orang pertama terjawab.

“Aku juga tidak tahu sumber pendapatan Dul Karung. Cuma salah satu pendapatannya kukira adalah menjadi joki three in one. Karena kalau diperhatikan potongannya si Dul pantas menjadi joki,” jawab orang itu sambil menerima kopi susu panas yang disodorkan Mas Wargo.

“Apa benar kau suka menjadi joki three in one, Dul? Kalau benar begitu, besar kemungkinan sumber pendapatanmu itu akan hilang. Rasa-rasanya Gubernur Ahok sudah bulat tuh niatnya untuk menghapuskan peraturan three in one,” kata orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang sambil mencelupkan talas goreng ke cairan gula merah di pisin yang ada di depannya.

”Sampai Hari Kiamat nongol di warung ini pun aku tidak akan menjadi joki three in one,” jelas Dul Karung.

“Kenapa? Itu kan mata pencarian yang halal, dan tidak diperlukan ijazah untuk melakukannya. Aku tahu, kau kan tidak punya ijazah Dul,” kata orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang itu lagi.

“Soal haram atau tidak, aku tidak tahu. Waktu aku mengaji pada H Marzuki di langgar Kong Subing ketika anak-anak dulu, tidak pernah ada pembahasan haram tidaknya menjadi joki three in one,” kata Dul Karung sambil mengunyah singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Tapi aku pernah melihat pada suatu pagi kau ngobrol dengan sekelompok joki three in one di Jl. Paku Buwono,” kata orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Mungkin saja. Aku memang suka mengingatkan mereka bahwa menjadi joki itu kurang baik,” balas Dul Karung dengan yakin dan mencoba meyakinkan.

“Apa salahnya? Itu kan cara cari duit yang halal. Daripada mereka menjadi “penyebar paku,” yang tak lain adalah sejenis bandit terselubung yang sama-sama beroperasi di pinggir jalan raya,” kata entah siapa dan yang mana.

“Betul, jadi joki three in one lebih baik kalau dibandingkan dengan segala aksi bandit terselubung. Tapi joki three in one bagiku pembantu aktif pelanggar hukum atau pelanggar peraturan. Three in one itu kan salah satu bentuk peraturan atau hukum yang melarang orang pada jam-jam tertentu, dan di jalan-jalan tertentu pula, mengendarai mobil kurang dari tiga orang. Nah, dengan adanya para joki itu, mobil yang semula dilarang melintasi jalan-jalan tertentu jadi bisa. Nah, apa itu bukan bentuk permukatan jahat, yaitu melanggar hukum atau larangan yang diberlakukan pemerintah?” jelas Dul Karung, entah memungut alasan itu dari mana.

“Jadi, bila pencabutan ketentuan three in one jadi dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta kau tidak keberatan?” tanya Mas Wargo pada Dul Karung.

“Jadi atau tidak pencabutan peraturan three in one itu, masa bodohlah. Gak ada sangkut pautnya dengan aku. Joki, aku bukan, punya mobil pun tidak!” kata Dul Karung seraya meninggalkan warung tanpa membayar terlebih dulu apapun yang dimakan dan diminumnya. ( syahsr@gmail.com )