Friday, 19 July 2019

BERPIKIR POSITIF

Rabu, 6 April 2016 — 5:54 WIB

“UN ini bikin repot saja. Dulu waktu kita masih sekolah, tak ada itu. Yang ada ujian negeri. Jadi murid swasta ikut ujian negeri. Nggak lulus, nggak apa-apa,” kataku.

“Ya, kita dulu begitu. Kau kan dulu di SMA Ksatria ikut ujian negeri. Kalau aku nggak karena sudah di negeri,” sahut Lukman.

“Sampai-sampai ada bikin acara doa dan berdzikir bersama menghadapi UN ini,” kata Soleh.

“Kupikir nggak perlu terlalu didramatisir, biasa saja. Kayak ujian biasa yang sudah ada. Siapkan diri dengan belajar, lalu berdoa, mudah-mudahan Allah beri kemudahan,” kataku.

“Tapi masalahnya, sekolah punya kepentingan. Kalau lulus seratus persen, gengsi sekolah naik. Kalau nggak, sekolah itu dianggap nggak favorit,” kata Soleh.

“Itulah, maka jadi target. Bukan tak mungkin segala cara digunakan agar tercapai. Kalau sekolah yang bikin begitu kan jadi rusak,” kata Lukman.

“Maka kupikir, lain kali tak usah ada lagi doa dan dzikir bersama. Cukup setiap siswa rutin belajar lalu berdoa. Bisa dilakukan sendiri, berdua, bertiga. Jadi tak usah ramai-ramai,” kata Soleh.

“Ya kita harapkan semua berjalan baik dan lancar,” kataku.

“Betul, sama dengan soal three in one sekarang. Mulai kemarin sampai Jumat mulai diuji coba menghapusnya. Nanti dibikin lagi 11 sampai 13 April,” kata Soleh.

“Dulu Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk juga three in one, begitu dihapus nggak macet. Parkirnya diberesi. Sempat terganggu kalau ada sidang besar atau demo di pengadilan. Sekarang pengadilannya sudah pindah,” kataku.

“Ya, tapi Thamrin-Sudirman lain. Katanya kalau diuji coba tak ada three in one, jalan tetap juga macet, maka mau dibikin jadi four in one, kayak di Jalan Pasteur Bandung,” kata Lukman

“Susah itu. Disiapkan bus gratis, kita parkir dimana, bayar lagi. Soalnya ini kan gara-gara ada joki. Biar dibikin four in one, jokie tetap akan ada. Kalau menurut aku, gampang saja,” kataku.

“Gampang saja gimana, orang DKI saja sudah pusing,” potong Lukman.

“Ya, sudah bikin saja jalan berbayar. Kendaraan berpenumpang kurang dari 3 orang, misalnya, dikenakan bayaran. Kan ini sudah direncanakan. Itu saja dibikin,” kataku.

“Betul. Coba saja, katakan kita sewa jokie bayar, belum lagi ada resiko, mobil juga bisa jadi bau. Ya sudah, kenapa nggak masuk bayar saja,” kata Soleh.

“Ya juga, jadi jokie kan nggak ada,” kata Lukman.

“Mungkin juga ini dibikin rame untuk menutupi gaduh politik sekarang,” kata Soleh.
“Bisa juga,” potong Lukman.

“Jangan begitu, kita harus berpikiran positif sajalah,” kata Soleh. (lubis1209@gmail.com)