Monday, 19 November 2018

Sat Reskrim Sita 6 Kontainer Pupuk Ilegal

Jumat, 8 April 2016 — 20:02 WIB
Menteri Pertanian, Wakapolda dan Kapolres Pelabuhan saat menunjukan barang bukti pupuk ilegal Jumat (8/4). (dwi)

Menteri Pertanian, Wakapolda dan Kapolres Pelabuhan saat menunjukan barang bukti pupuk ilegal Jumat (8/4). (dwi)

JAKARTA (Pos Kota) –  Sat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Priok menggulung komplotan pembuat pupuk ilegal yang sudah beroperasi sejak tahun 2007. Akibat ulah oknum itu pemerintah rugi Rp720 Miliar.

Sebanyak 6 kontainer bermuatan 136 ton pupuk ilegal yang siap akan dikirim ke sejumlah daerah luar jawa melalui Pelabuhan Tanjung Priok disita Sat Reskrim Polres Pelabuban.

Perusahaan yang memproduksi pupuk ilegal inijuga tidak mengantongi izin produksi dan pengedaran.Akibatnya pupuk tersebut tidak memiliki kompososi yang sesuai dengan yang tercantum dalam label maupun standar pupuk yang diwajibkan oleh pemerintah Indonesia.

Dampaknya, petani mengalami kerugian karena produktivitas pertanian tidak optimal. Bahkan pupuk yang ditebar ke pertanian justru membawa mala petaka atau tidak membuahkan hasil dan merusak tanaman.

Wakapolda Metro Jaya Brigjen Polisi Nandang Jumantara dalam konferensi pers bertajuk “Polres Pelabuhan Tanjung Priok Pengungkapan Sindikat Pupuk Ilegal mengungkapkan sindikat ini memiliki pasar atau wilayah edar yang sangat luas, yakni di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Riau dan Aceh.

12 Mesin Pembuat Pupuk

Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok AKBP Henki Heryadi dan Kasat Reskrim AKP Victor Inkriwang menyebutkan selain menyita ratusan ton pupuk, Polisi juga menyita lima unit truk trailer, 12 mesin pembuat pupuk, 41 peralatan dan perlengkapan pembuat pupuk, 10 karung dan setengah galon bahan pembuat pupuk, lima macam dokumen terkait pupuk serta enam buah alat percetakan yang digunakan untuk karung pupuk.

Penangkapan dan penyitaan pupuk ilegak ini cerita Victor diawali adanya laporan dari masyarakat kemudian petugas melakukan penyelidikan dan pada 24 Februari 2016 Polisi mengamankan dua kontainer 20 fit yg berisi 48 ton pupuk ilegal merek NPK Berlian 151515.

Keesokan harinya pada 25 Februari 2016 polisi mengamankan satu kontainer 20 feet yang berisi 24 ton pupuk ilegal merek NPK Berlian 161616. Seluruh pupuk ilegal yang terdapat dalam tiga kontainer tersebut diproduksi dan diedarkan oleh tersangka berinisial ES. Rencananya, pupuk-pupuk ilegal tersebut akan dikirim ke Medan dan Sumatera Utara.

Kemudian lanjut Kasat Victor pada 27 Februari 2016 Polres Pelabuhan Tanjung Priok mengamankan kontainer 20 feet berisi 20 ton pupuk ilegal merek NPK Plus Ponskha yang diproduksi dan diedarkan oleh tersangkan S. Pupuk rencananya akan dikirim ke Dumai dan Riau.

Penyitaan terus berlanjut pada 1 Maret 2016. Polres mengamankan 1 kontainer 20 fit berisi 24 ton pupuk ilegal merek Phospate Alam SP-36 yang rencananya akan dikirimkan ke Medan dan Sumatera Utara terakhir tanggak 5 Maret 2016 Polres Tanjung Priok mengamankan 1 kontainer berisi 20 ton pupuk ilegal merek Raja Sawit Ponskha yang diproduksi dan diedarkan oleh tersangka IS yang akan dikirimkan ke Medan dan Sumatera Utara.

Apresiasi Menteri ke Polres

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman yang hadir dalam ekspose memberikan apresisasi kepada Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Moechgiyarto, Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok AKBP Hengki Haryadi, dan Kasat Reskrim AKP Victor Inkiriwang atas keberhasilannya.

“Kami berterima kasih ke Pak Kapolres dan Wakapolda. Kami minta pihak berwajib agar terus memproses dan membongkar terus sampai akar dan jaringannya, karena merugikan petani kita,” ujar Amran di dermaga 108,Jumat (8/4/2016).

Menurut Menteri Amran, sindikat semacam ini membuat petani merugi hingga Rp720 miliar selama periode 2007 hingga sekarang. Setiap tahunnya, petani mengalami kerugian kurang lebih 4.800 ton pupuk.

Pupuk ilegal dijual Rp800/kg sedangkan pupuk subsidi saja dihargai Rp2.300/Kg. “Kami berharap masyarakat jangan melihat murahnya tapi justru harus dicurigai kenapa bedanya sangat jauh berarti palsu,” katanya. (dwi/win)