Monday, 23 July 2018

Pakai Bahan Peledak

Warga Dua Desa di Indramayu Demo Tolak Obyek Seismic

Selasa, 12 April 2016 — 7:59 WIB
Kegiatan obyek survei seismic alias survei cari data sumber minyak dan gas. (taryani)

Kegiatan obyek survei seismic alias survei cari data sumber minyak dan gas. (taryani)

INDRAMAYU (Pos Kota) – Ratusan massa gabungan dari Desa Segeran Lor, Segeran Kidul dan desa lainnya di Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jabar, berunjuk rasa di DPRD Indramayu, Jalan Jendral Sudirman Indramayu. Mereka menolak desanya dijadikan obyek survey seismic alias survey pencarian data sumber minyak dan gas yang menggunakan bahan peledak.

Alasan penolakan survey seismic itu kata pengunjuk rasa karena masyarakat merasa trauma dengan peristiwa survey seismic yang terjadi sekitar Tahun 1998 an. Saat itu, kata pengunjuk rasa, warga Desa Segeran Kidul dan Segeran Lor tengah menanti panen tanaman jeruk siam yang hasilnya diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Namun sebelum tanaman jeruk itu dipanen hasilnya ternyata mati lebih dahulu. Selidik punya selidik kematian tanaman jeruk di desa itu salah satunya karena andilnya kegiatan survey seismic.

Dampak matinya tanaman jeruk itu membuat nasib warga desa itu menderita. Bahkan tidak sedikit yang jatuh miskin. Itu karena mereka tidak mampu mengembalikan hutangnya di bank. Padahal, tidak sedikit warga Desa Kidul dan Segeran Lor yang mempunyai beban hutang di bank untuk membiayai tanaman jeruk.

Kejadian pahit yang menyengsarakan masyarakat itu nampaknya masih terus membekas di hati warga desa. Itulah sebabnya tatkala ada informasi kegiatan survey seismic di desanya, warga desa itu kontan menolak. Bahkan sejak beberapa hari yang lalu mereka nekad mengumpulkan uang sumbangan untuk biaya sewa truk atau kendaraan pikap yang mereka tumpangi untuk berdemo di Gedung DPRD Indramayu.

Pemantauan Pos Kota, iring-iringan puluhan truk dan kendaraan pikup melaju dari Desa Segeran Kidul dan Desa Segeran Lor menuju gedung DPRD Indramayu yang dijaga ratusan anggota Polres Indramayu. Di perjalanan mereka meneriakkan yel-yel menolak desanya dijadikan obyek survey seismic.

Salah seorang warga Desa Segeran Kidul H.Hatta A.R dihubungi Pos Kota menerangkan, walaupun sekarang ini masyarakat Desa Segeran Kidul dan Segeran Lor tidak lagi menanam jeruk siam besar-besaran, akan tetapi masyarakat masih dihantui perasaan takut jika tanah di desanya dijadikan obyek survey seismic.

Oleh karena itu, kemarin ratusan warga desa itu berunjuk rasa menolak kehadiran survey seismic. “Masyarakat wajar masih dihantui trauma karena dampak survey seismic yang mematikan tanaman jeruk pada Tahun 1998 an itu sangat menyengsarakan masyarakat. Khususnya para petani yang menanam jeruk sebagai andalan penghasilan,” katanya.

Diperoleh informasi, kegiatan survey seismic di Desa Pagedangan, Kecamatan Bangodua nampaknya bermasalah. Hal itu karena banyak rumah-rumah permanen warga yang rusak atau retak akibat tergena getaran bahan peledak saat kegiatan survey seismic berlangsung. Walaupun kerusakan pada bangunan dan tanaman itu diganti perusahaan, namun paling tidak dengan adanya kerusakan bangunan atau tanaman itu telah merepotkan masyarakat.

(taryani/sir)