Monday, 19 November 2018

Lanjut Dong, Siapa Takut?

Jumat, 15 April 2016 — 4:54 WIB

“ MAU terus apa sampai di sini saja, Pak?”

“ Lanjut dong. Siapa takut?”

“ Jadi Bapak nggak takut?”

“ Nggak lah.Yang korupsi tuh yang takut!”

“ Bapak nggak terlibat?”

“ Terlibat apa? Semuanya saya ikuti prosedur, kok? Betul saya ikut menjual beli tanah di wilayah saya. Saya kan ketua RT masa nggak boleh ikutan? Boleh dong kalau saya jadi makelar. Saya dapet seratus dua ratus maklum,dong, kan kerja. Itu biasa dong, komisi. Jadi jangan diputar- balikan lah. Jangan juga pada berlindung di balik undang-undang. Itu peraturan buat ditaati bukan untuk berlindung. Siapa yang berani ngancam? Emamg gua takut?”

“ O, ya sudahlah. Jadi Bapak ikut terus dalam pertarungan kepala daerah nanti?’

“Ikut dong, sudah kepalang basah!”

“ Tapi, Bapak kan nggak punya partai? Sementara kalau jalur independent Bapak harus punya sahabat, teman atau pendukung yang banyak!”

“ Gampang itu. Yang penting saya punya kasus. Biar punya partai pendukung, kalau nggak punya kasus, nggak ngetop!” ujar Bang Jalil menyudahi bicaranya di HP.

“ Dari istana lagi, Pak?” tebak sang istri, sambil menaruh secangkir kopi di samping sang suami.

“ Bukan,ini dari preman, minta setoran!”

“ Kepingin jadi pejabat repot juga, ya Pak? Kalau ikut partai, ya partai yang minta, nggak punya partai, preman yang minta. Maju kena, mundur kena!” kata sang istri.

“ Nggak apa-apa. Yang penting Ibu siap kan jadi ibu pejabat?” tanya Bang Jalil.

“ Siaaap. Siapa takut?” kata sang istri.

Bang Jalil tergagap. Tangannya mengusap mata yang masih ngantuk.

“ Bapak ngimpi lagi, ya?” ujar sang istri yang siap minta uang belanja. -massoes