Wednesday, 20 September 2017

Eksekusi Mati Bandar Narkoba, Kejagung Enggan Sebut Waktunya

Sabtu, 16 April 2016 — 16:46 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA (Pos Kota) – Jaksa Agung HM Prasetyo memastikan eksekusi mati terhadap para bandar narkoba, yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap segera dilakukan.

Hanya saja, Prasetyo enggan menyebutkan waktu eksekusi terhadap terpidana mati oleh regu tembak dari Brimob Polri.

“Kapan waktunya akan dieksekusi mati, nanti akan dilakukan lagi,” kata Prasetyo, yang juga mantan Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum), di Jakarta, kemarin.

Dia mengingatkan para awak media bahwa dirinya yang berkewenangan untuk memutuskan pelaksanaan eksekusi mati. “Jadi, jangan denger isu dari tempat lain. Berita yang pasti itu dari saya,” tegasnya.

Kapuspenkum Amir Yanto menambahkan terpidana mati yang akan dieksekusi mati, jika semua upaya hukum, termasuk peninjauan kembali (PK) dan grasi ditolak.

“Sesuai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pula, PK dapat diajukan lebih satu kali. jadi, kita harus pastikan dahulu semua masalah hukum, sebelum melangkah,” kata Amir.

Lambannya Eksekusi

Sebelum ini banyak kalangan mempertanyakan lambannya eksekusi mati oleh Kejaksaan selaku eksekutor. Namun, hak terpidana seringkali diabaikan.

Pemerintah Indonesia telah mengeksekusi mati 14 terpidana mati dalam dua gelombang,  2015. Tahap pertama dilakukan pada Minggu, 18 Januari 2015, terhadap enam terpidana mati di Nusakambangan dan Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob) Boyolali, Jateng.

Mereka, terdiri Tommi Wijaya (warga negara Belanda), Rani Andriani (Indonesia), Namaona Denis (Malawi), dan Marcho Archer Cardoso Moreira (Brasil), Tran Thi Bich Hanh (Vietnam) dan Daniel Enemuo alias Diarrsaouba (Nigeria).

Tahap kedua, 29 April 2015, di Nusakambangan, Cilacap,  atas nama  Rodrigo Gularte (Brasil), Sylvester Obiekwe Nwolise (Nigeria), Okwudili Oyatanze (Nigeria) dan Martin Anderson alias Belo (Ghana). Selanjutnya Zainal Abidin bin MGS Mahmud Badarudin (Indonesia), Rahem Agbaje Salami Cardova (Cardova), Myuran Sukumaran (Australia) dan Andrew Chan (Australia).

Ada dua terpidana lain yang siap dieksekusi, namun karena dugaan ‘intervensi’ dari pimpinan negara Philipina dan Perancis, akhirnya eksekusi Mary Jane Fiesta Veloso (Philipina) dan Serge Atloui (Perancis) gagal dilakukan. (ahi/win)