Tuesday, 13 November 2018

Maluku Utara Gelar Festival Kota Rempah Jailolo

Selasa, 19 April 2016 — 10:23 WIB
Peluncuran Festival Teluk Jailolo 2016. (ist)

Peluncuran Festival Teluk Jailolo 2016. (ist)

JAKARTA (Pos Kota)- Halmahera Barat kepulauan Maluku Utara menjadi kota yang kesohor akan rempahnya. Nilai sejarah tersebut kembali diangkat dalam festival Teluk Jailolo (FTJ) 2016 yang ke 8 kalinya.

“Nilai sejarah sebagai kota rempah menjadi branding Jailolo untuk mendongkrak kunjungan wisatawan,” papar Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar Esthy Reko Astuti didampingi Wagub Maluku Utara M Natsir Thaib dan Bupati Halmahera Barat Danny Missy saat meresmikan FTJ 2016. Festival akan berlangsung 2-7 Mei mendatang.

Penyelenggaraan FTJ 2016 kali ini mengangkat tema “Pesona Budaya Kepulauan Rempah” sebagai upaya mengangkat kembali popularitas Moloku Kie Raha (Jailolo, Bacan, Ternate dan Tidore). Wilayah ini pernah tercatat dalam sejarah dunia sebagai pusat penghasil rempah-rempah terbaik pada Abad XV-XVIII.

Menurut Esthy popularitas Moloku Kie Raha yang sejak Abad XV tersohor ke seluruh dunia sebagai kepulauan penghasil rempah terbaik dunia (spice island) menjadi branding untuk mendongkrak pariwisata Maluku Utara. Dimana wisata dengan latar belakang sejarah relatif mudah dipromosikan. Hal ini misalnya tampak ketika Kemenpar meluncurkan Wisata Jalur Samudera Cheng Ho dengan destinasi Batam dan Semarang baru-baru ini.

Ia mengakui bahwa Maluku Utara ke depan memiliki prospek sangat cerah dalam hal pariwisata. Ini seiring meningkatnya fasilitas aksesibilitas, amenitas, dan aktraksi wisata. Terkait ditetapkannya wilayah Morotai, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK); pariwisata, industri perikanan dan logistik.

“Pembangunan fasilitas infrastruktur, amenitas, dan atraksi di sana akan lengkap,” lanjutnya.

Wagub Maluku Utara M Natsir Thaib mengatakan tujuan penyelenggaraan FTJ 2016 untuk menumbuhkan dan mengukuhkan kembali identitas Halbar sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam dan sumber daya budi.

“Inilah yang menjadi daya dorong dalam membangun pariwisata terintegrasi berbasis pelestarian budaya dengan akar sejarah kejayaan Kepulauan Rempah Moloku Kie Raha,” katanya.
Pusat aktivitas FTJ 2016 akan dilakukan di sejumlah lokasi wisata misalnya di Desa Wisata Gamtala, Desa Wisata Guaeria, Desa wisata Bobanehena.

Di tempat-tempat tersebut, wisatawan diajak berpetualang. Berbagai kegiatan ditawarkan, mulai dari berpetuangan menyusuri mangrove; melihat pengolahan sagu; wisata kuliner; belakar tentang cengkeh, pala dan kelapa.

Wisata di desa ini dapat dilanjutkan dengan wisata tracking dan menikmati kuliner ala petani kebun rempah-rempah di atas gunung Jailolo sambil menikmati pemandangan Teluk Jailolo.
Bupati Halbar Danny Missy berharap event FTJ 2016 akan menarik wisatawan wisatawan nusantara (wisnus) maupun wisatawan mancanegara (wisman) serta para investor untuk berwisata menikmati wisata sejarah, budaya, dan wisata alam sekaligus melihat potensi bisnis yang dapat dikembangkan di Halbar.

Penyelenggaran FTJ 2016 akan disemarakan dengan rangkaian acara antara lain; ritual budaya, atraksi budaya, gelar seni budaya Moloku Kie Raha, serta Sasadu On The Sea sebagai puncak acara.

(faisal/sir)