Friday, 21 September 2018

Kegiatan Ekspor-Impor Kacau, ALFI Minta Jokowi Bentuk INSW Mandiri

Rabu, 20 April 2016 — 20:11 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA (Pos Kota) – Sistem National Single Window (INSW) sudah lebih satu minggu tidak stabil mengalami gangguan atau down, akibatnya proses pengurusan dokumen yang juga melibatkan 18 kementerian dan lembaga (K/L) terkait kegiatan impor dan ekspor serta perdagangan international kacau karena ribuan dokumen tidak bisa diproses.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Widijanto mendesak Presiden Jokowi (Joko Widodo)  agar pengelolaan portal Indonesia National Single Window (INSW) ini dilakukan  oleh lembaga atau badan mandiri bersifat independen yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

“Presiden harus cepat turun agar kegiatan perdagangan international tidak semakin memburuk. portal INSW merupakan sistem tunggal  berbasis elektronik dan jika ada gangguan tidak bisa di lakukan secara manual.” katanya Rabu (20/4/2016).

Saat ini pengelolaan INSW masih menumpang di gedung Kementerian Keuangan. “Dengan pengelolaan  mandiri diharapkan pihak provider dari sistem pertukaran data ekspor impor berbasis informasi dan tehnologi ini bisa di tangani sendiri oleh provider yang lebih professional,” terang Widijanto.

Pengelola INSW saat ini masih berbentuk satuan kerja (satker)  bertanggung jawab Kepada Menteri Keuangan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden No:76/2014 tentang Pengelolaan Portal Indonesia National Single Window.

Fungsi INSW

Dalam Perpres INSW berfungsi  penyampaian data dan informasi secara tunggal dan sinkron,  juga pembuat keputusan secara tunggal untuk pemberian izin kepabeanan dan pengeluaran barang.

“Provider portal INSW  saat ini dilaksanakan PT Telkom Indonesia. Namun sayangnya seringkali mengalami down atau gangguan dan kondisi ini sangat merugikan pelaku usaha ekspor impor karena proses pengurusan barang terhambat,” ujar Widijanto.

Widijanto mengatakan, sistem pertukaran data secara elektronik pada portal INSW sering eror sehingga menghambat proses impor dan ekspor melalui pelabuhan pelabuhan utama di Indonesia.

“Kendati sudah mulai normal, namun sistem INSW mengalami gangguan pada pekan lalu hingga awal pekan ini hingga merugikan pemilik barang ekspor impor karena barang lebih lama tertahan di gudang ataupun di pelabuhan,” cerita Wijianto.

Namun jika sistem tersebut mengalami gangguan otomatis proses pengurusan dokumen yang juga melibatkan 18 kementerian dan lembaga (K/L) terkait  tidak bisa di proses sehingga kegiatan perdagangan internasional terhenti. Sedangkan ketika sistem sudah normal, harus mengulangi dari awal lagi dan bisa memakan waktu 4-5 hari untuk memproses dokumen elektronik tersebut.  (dwi/win)