Saturday, 22 September 2018

Lulusan Terbaik STP Bandung adalah Kaum Hawa

Jumat, 22 April 2016 — 17:01 WIB
Menpar Arief Yahya pada acara wisuda SPT Bandung 2016. (ist)

Menpar Arief Yahya pada acara wisuda SPT Bandung 2016. (ist)

BANDUNG (Pos Kota) – Lima dari enam wisudawan terbaik Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung 2016, adalah kaum hawa yang digelar persis di Hari Kartini, 21 April 2016.

Fatricia Maulani dari program hospitality dengan indeks prestasi yang spektakuler, 3,84. Hal itulah yang menciptakan haru biru di Dome Malabar saat mewusuda 674 lulusan, lengkap dengan wali mahasiswa, civitas akademika, dan pelaku industri pariwisata.

Menpar Arief Yahya memberikan ucapan selamat dengan bunga, diiringi orchestra dan koor lagu “Ibu Kartini” kepada Fatricia. “Selamat kepada Kartini Kartini masa kini yang hebat secara akademis, dan berprestasi,” kata Arief Yahya dari atas stage.

Lima mahasiswa terbaik lainnya adalah Rachmat Panduwinata (3,84) Hospitality, Irawaty Susila (3,66) Kepariwisataan, Mustika Pernatasari (3,62) Magister Management Pariwisata, Endah Futriyani (3,62) Pasca Sarjana, Mirani Elisabeth Siahaan (3,52) Program Perjalanan.

Ketua STP Bandung, Anang Sutiono menjelaskan sejak berdirinya sekolah ini tahun 1962, sampai tahun 2015 sudah meluluskan 19.808 orang. “Sampai saat ini STP Bandung masih menjadi sekolah tinggi pariwisata tertua di Asia Pacific. Yang kami lakukan sekarang adalah menjaga kualitas lulusan STP agar tetap leading dalam persaingain industri pariwisata yang semakin global,” ucap Anang.

Anang juga melaporkan, bahwa jumlah calon mahasiswa yang mendaftar untuk bergabung di STP Bandung itu lebihbdar 4.000 orang. Setelah diseleksi, yang bisa diterima hanya 614 mahasiswa. Itu berarti ada potensi besar lebih dari 30000 calon yang tidak bisa ditampung di kampus ini. “Karena itu, kami mengusulkan kepada Pak Menteri untuk memiliki kampus baru, yang tanahnya sudah kami miliki 34 hektar, untuk menambah kapasitas lulusan STP Bandung ke depan,” usul Anang dengan konsep green campus, eco campus.

Menpar Arief Yahya menambahkan, STP Bandung ini memang kampus pariwisata paling tua dan paling banyak melahirkan profesional di bidang pariwisata. Sementara ke depan, sektor pariwisata diharapkan bisa menjadi back bone perolehan devisa, ketika Oil and Gas (minyak bumi dan gas), Coal (batubara), dan CPO Crude Palm Oil (minyak kelapa sawit) sedang memasuki trend menurun.

“Pariwisata akan menjadi tulang punggung perekonomian nasional ke depan,” kata Arief Yahya sambil menunjukkan grafik trend dalam angka dan garis.

Lebih jauh, Arief Yahya menjelaskan, gambar besar revolusi industri yang pernah dikupas oleh Alfin Toffler, dalam Future Shock: Thirth Wave. Revolusi gelombang pertama adalah agriculture atau pertanian. Lalu revolusi manufacture, industri yang menggunakan mesin dan pabrik. Ketiga, revolusi teknologi informasi, dan kini tengah memasuki era cultural industry atau creative industry. “Pariwisata ada di gelombang kermpat, cultural industry,” ungkap Arief Yahya.

STP Bandung memiliki akar sejarah yang panjang. Puluhan tahun silam, Indonesia pernah kerjasama dengan Swiss dan itu menjadi cikal bakal Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB). Bermula dari didirikannya Sekolah Kejuruan Perhotelan (SKP) tahun 1959 yang merupakan sekolah kejuruan menengah atas kejuruan di bawah naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kini Kemenpar memiliki empat sekolah, dan dua embrio sekolah pariwisata. STP Bandung, STP Bali, Akpar Medan dan Akpar Makassar. Yang masih dirintis adalah Politeknik Pariwisata Palembang dan Politektik Pariwisata Mandalika Lombok. (prihandoko)