Thursday, 15 November 2018

Sandera Diberi Makan Dua Kali Oleh Abu Sayyaf

Selasa, 3 Mei 2016 — 22:29 WIB
Alfian yang disandera kelompok Aby Sayyaf tiba di rumahnya dan langsung menggendong anaknya (ilham)

Alfian yang disandera kelompok Aby Sayyaf tiba di rumahnya dan langsung menggendong anaknya (ilham)

TANJUNG PRIOK (Pos Kota) – Alfian Elvis Repi, 36, yang sempat disandera Abu Sayyaf, mengaku diberi makan dua kali sehari.

“Apa yang mereka makan, ya kita makan. Apa yang mereka minum, ya kita minum. Mereka tidur di mana, kita pun tidur di situ. Mereka jalan, ya kita jalan juga di hutan. Untuk makan, hanya diberi dua kali sehari. Paling cuman nasi, mie instan dan ikan,” kata Alfian, Selasa (3/5).

Alfian, menjelaskan pemisahan dilakukan bukan antara muslim dan non muslim oleh Abu Sayyaf. Pemisahan itu, dimaksud untuk keselamatan bersama ABK lainnya. “Bukan dipisah antara muslim dan Kristen. Itu dipisah karena buat proses keselamatan kita bersama. Yang dipisah itu buat yang tiga ini, buat komunikasi sama orang Indonesia. Entah itu pemerintah atau kantor (perusahaan),” ingatnya.

Alfian kemudian menceritakan kronologis penyanderaan yang dilakukan sekelompok militan asal Filiphina tersebut. Ia mengatakan, sekitar pukul 15.00 WIB hingga 15.20 WIB, ia sedang piket di bagian atas kapal. “Saya lihat ada perahu dari jauh. Saya panggil masinis, panggil kapten saya juga ke atas kapal. Saya katakan, ‘Ada perahu mendekat, apa tindakan kita?’ ingat Alfian.

Alfian, menjelaskan saatr perahu tersebut menghampiri kapal Brahma 12, tempatnya bekerja, belum mengetahui perahu siapa tersebut namun orang-orang tersebut mengenakan kaos Police National Philipine (PNP). “Mereka langsung naik . Kami kira polisi Filipina mau minta air. Wajar karena saat itu di tengah laut,” katanya.

Namun, kecurigaan Alfian terbukti sekelompok berkaos PNP lengkap menggunakan senjata meminta paksa mematikan mesin kapal. Mereka memanggil seluruh awak kapal di Brahma 12. “Mereka semua panggil kami dan disatukan di atas kapal. Sementara yang dibawah lagi istirahat, turut dipanggil semua ke atas,” ucapnya.

Alfian sembilan rekannya tidaknya dalam todongan senjata tapi juga diikat dan diborgol diatas kapal Brahma 12 juga diikat dan diborgol. “Mereka juga minta kami mengoperasikan kapal. kapten bawa kapal, sementara saya ada disampingnya. Ada salah satu dari kelompok itu yang bisa kita ajak komunikasi. Kita bilang ke mereka, ‘Kita bisa kerjasama, apa yang Pak cik mau, kita ikutin, tapi bisa nggak kita dilepasin?’ Akhirnya dilepas saja tuh borgol dan ikatannya,” katanya.

Alfian pun melanjutkan, “Mendengar penawaran kami, mereka bilang, ‘Kita kasih kepercayaan, kalau begitu kita lepas, tapi saya minta jangan ada yang lari. Kalau ada satu yang lari, kena tembak, sembilan lainnya juga akan sengsara,’ jadi kita kerja sama di situ,” terang Alfian.

Sebulan disandera di hutan Filipina, Alfian mengaku tak pernah melihat wajah para sanderanya. “Mereka pake baju biasa, mukanya juga gak keliatan. Tertutup semua. Bahkan enggak pernah buka sedikitpun. Karena setahu saya, mereka kalau ambil wudhu itu jauh banget dari kami di lokasi sandera. Solat bisa bareng, tapi udah pake penutup muka. Senjata tetap disiagakan. Mereka mungkin ada sekitar 3 kilo dari tempat kita ditahan,” ungkapnya. (ilham)

  • Mei Lan

    banyak game yang menanti anda gan, yuk diintip A-R-E-A-T-O-T-O nya gan game apa apa aja, dan raih kemenangannya bersama kami ya gan :D