Tuesday, 11 December 2018

Maling Rumah Kosong

Sabtu, 7 Mei 2016 — 6:10 WIB
dulkarunggg

Oleh S Saiful Rahim

“ALAYKUM salam,” kata orang yang duduk pas di depan pintu masuk warung kopi Mas Wargo, menjawab salam Dul Karung yang diucapkan sambil melangkah masuk.

Ketika orang itu bergeser ke kanan, Dul Karung pun duduk di tempat semula orang itu duduk. Dan seperti biasa, dengan tangkas tangan si Dul mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Selama liburan panjang kau ke mana saja, Dul?” tanya orang itu lagi seraya memperhatikan mulut Dul Karung yang termonyong-monyong karena kepanasan.

“Setiap hari dalam setahun bagi si Dul sih liburan terus. Dia kan tidak punya kegiatan apa-apa. Kerjanya cuma nongkrong di sini dan tidur di rumah,” jawab orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang, satu-satunya bangku yang ada di warung kopi itu.

“Sebenarnya, kalau dia mau, ada kerjaan yang bisa dilakukan Dul Karung,” potong orang duduk di ujung kanan bangku panjang sebelum Dul Karung membuka mulut.

“Apa?” tanya orang yang tadi bergeser memberikan tempat duduk kepada Dul Karung.

“Mencuci uang,” jawab orang itu dengan yakin.

“Maksud, Bung?” tanya orang yang duduk di sebelahnya, yang memakai safari seperti camat di zaman Orde Baru dulu.

“Membersihkan uang. Terutama uang koin kembalian tukang ikan yang seringkali berbau amis,” jawab orang itu membuat hampir semua yang hadir di warung kopi tersebut tertawa.

“Wadduh! Semua omongan ini tidak bermutu. Mencuci uang kok disamakan dengan mencuci celana kolor. Digilas, diucek-ucek, dijemur, lalu disetrika! Bodoh kok hidup,” serobot Dul Karung dengan gemas.

“Aku tidak ikut-ikutan seperti orang lain yang setiap ada libur panjang lalu berduyun-duyun ke luar kota. Bikin macet jalan saja! Aku tidak pergi ke mana-mana. Di rumah saja, karena polisi memberi peringatan agar warga kota berhati-hati. Zaman sekarang banyak pencuri spesialis rumah kosong. Nah! Karena ingin menjaga rumahku aku jadi tidak ke mana-mana,” sambung si Dul masih bernada geram.

“Memang kau menyimpan harta senilai berapa di rumahmu sehingga kau tak berani meninggalkannya. Utangmu pada Mas Wargo saja sejak warung kopi ini berdiri tidak pernah kau bayar,” serobot orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung.

“Aku ingat, waktu bertamu ke rumahmu dulu, kita duduk di lantai beralas tikar rombeng yang kau gelar. Karena kau sama sekali tidak punya bangku. Apalagi benda yang lain. Waktu aku bertamu itu kau sendiri mengatakan bahwa kau tidur di atas tikar yang kau gelar untuk menerima tamu itu.

Mana ada maling yang mau masuk ke rumahmu. Mendekati rumahmu saja mereka pasti segan. Mungkin mereka kira rumahmu itu kandang bebek,” sambung orang itu, disambut suara tawa yang datang dari segala arah. Bahkan ada yang sampai terbatuk-batuk.

“Kan polisi menyebutnya pencuri spesialis rumah kosong. Nah, kalau disebut pencuri spesialis rumah kosong, ya keahliannya adalah mencuri rumah yang kosong. Lain halnya kalau disebut rumah yang ditinggalkan penghuninya. Boleh jadi banyak harta di rumah itu. Kalau rumah kosong sih, tikar rombeng seperti yang kumiliki pun tidak ada,” kata Dul Karung dengan nada suara yang tinggi.

“Benar juga kata si Dul, ya?” entah kata siapa dan yang mana.

“Tu tu dengar tu. Pak polisi itu bilang pelakunya sedang kita cari. Itu kan berarti kita pun mencari pelaku yang dimaksud, padahal kita sedang enak-enakan ngopi. Kalau polisi itu bilang pelakunya sedang kami cari, tahulah kita bahwa yang mencari itu mereka,” kata Dul Karung tiba-tiba sambil menunjuk ke layar tv yang mengekspos komandan polisi sedang memberi keterangan kepada sekelompok wartawan.

“Mas, saya pergi dulu ya. Mau membantu polisi yang sedang mencari pelaku kejahatan tersebut. Utang saya hari ini satukan saja dengan yang sudah-sudah,” kata Dul Karung kepada Mas Wargo sambil ngeloyor pergi. (syahsr@gmail.com)