Saturday, 20 July 2019

Besok Dipanggil KPK Soal Reklamasi, Ahok: Ya Datang Dong…

Senin, 9 Mei 2016 — 11:56 WIB
Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok meninjau pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3, Jalan Pupan No. 3B, Pondok Pinang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (9/5/2016). (julian)

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok meninjau pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3, Jalan Pupan No. 3B, Pondok Pinang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (9/5/2016). (julian)

JAKARTA (Pos Kota) – Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mengaku dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan suap terkait dua rancangan peraturan daerah (Raperda) mengenai reklamasi di teluk Jakarta, Selasa (10/5/2016).

Pria yang akrab disapa Ahok ini mengaku akan diperiksa sebagai saksi bagi bos PT Agung Podomoro Land, Ariesman Widjaja, yang dalam kasus itu telah ditetapkan sebagai tersangka bersama mantan Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Mohamad Sanusi. Ahok pun menerima informasi bahwa proses penyidikan terhadap Ariesman sudah hampir rampung dan segera dinaikkan ke tahap penuntutan.

“Besok saya dipanggil KPK untuk jadi saksi kasus Sanusi dan Ariesman. Kalau tulisannya sih, kasus Ariesman ya. Dia mau dinaikkan ke sidang, pengadilan,” katanya, usai meninjau pelaksanaan Ujian Nasional (UN) Tahun Pelajaran 2015-2016 di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3, Jalan Pupan No. 3B, Pondok Pinang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (9/5/2016).

Orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini pun memastikan akan memenuhi panggilan tersebut dengan harapan penanganan kasus tersebut cepat tuntas. “Ya datang dong, supaya cepat,” ujarnya.

SAKSI

Soal kemungkinan pertanyaan yang akan dicecarkan penyidik KPK kepadanya, Ahok mengaku belum dapat memperkirakan. Namun, alasan dia diminta jadi saksi karena, menurutnya, KPK menganggap dirinya tahu soal kasus dugaan suap tersebut.

(Baca: Lihat Pelaksanaan UN, Ahok Kunjungi SMPN 41)

“Ya kalau jadi saksi ya, sebenarnya jadi saksi sederhana saja ya. Kamu cuma menyampaikan apa yang kamu tahu, kamu dengar, kamu lihat, kamu pernah baca, ya sampaikan saja apa adanya, supaya bisa membantu penyidik melakukan penyidikan dengan baik. Ini kan sudah naik jadi tersangka,” katanya.

“Saya enggak tahu pertanyaannya apa. Tetapi yang pasti pertanyaan sehubungan dengan Sanusi dan Ariesman. Biasanya pertanyaannya pasti begitu, apakah saudara kenal, apakah anda sehat, ya kira-kira gitu kan. Standard lah kayak gitu ya,” sambungnya.

Disinggung apakah dirinya memang mengetahui seluk beluk kasus suap tersebut, Ahok membantahnya. Namun yang pasti dia telah mengosongkan agenda kerjanya besok agar bisa fokus seharian memberikan kesaksian di KPK.

“Pembahasan-pembahasan itu saya gak pernah ikut. Saya hanya kebijakan, waktu dia datang, Pak ini gak mau kuorum, kebijakan kita apa, ini ada interupsi dari mereka, ketika ada tim tidak bisa menyelesaikan saya memberikan masukan. Nah, saya gak tahu pertanyaannya apa besok. Kalau memang keterangan dari dinas teknisnya sudah lengkap. Mungkin saya pendek waktu pemeriksaannya. Saya gak tahu. Tetapi seharian besok saya kosongkan (agenda),” tuntasnya.

Dalam kasus ini KPK juga sudah memeriksa sejumlah anak buah Ahok. Di antaranya Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) DKI Jakarta, Heru Budi Hartono; Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta, Tuty Kusumawati; Asisten Sekretaris Daerah DKI Jakarta Bidang Pembangunan, Gamal Sinurat; dan Staf Khusus, Sunny Tanuwijaya.

Selain itu, pimpinan dan anggota DPRD DKI Jakarta pun telah diperiksa. Antara lain, Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetyo Edi Marsudi; Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Mohamad Taufik; dan Ferrial Sofyan; Sekretaris DPRD DKI Jakarta, Muhamad Yuliadi. Termasuk sejumlah Anggota Badan Legislasi DPRD DKI Jakarta, Merry Hotma, dan Muhammad Sangaji.
(julian/sir)

  • Lengket lengket

    Ya iya lah datang, masa mau pulang ke tanah leluhur