Sunday, 18 November 2018

Soal Nafsu dan Kebiri mengebiri!

Senin, 16 Mei 2016 — 5:42 WIB

APAKAH Anda setuju hukuman tambahan ‘kebiri’ bagi pemerkosa? Nggak usah dijawab. Pasti jawabannya bisa ditebak, hanya bikin pusing orang banyak.

Bagi yang marah banget pada pelaku, pasti setuju.” Kebiri aja, biar tahu rasa!”
Tapi, buat yang kontra, pasti akan dikaitkan dengan hak azasi manusia dan katanya, tidak manusiawi kalau orang dibuang nafsunya dengan cara kebiri. “ Emang kambing dikebiri?” kata mereka.

Memang manusia itu diberi berbagai nafsu, yang baik dan yang jelek. Nah, tinggal bagaimana manusia itu sendiri yang bisa mengelola nafsunya agar keduanya bisa digunakan semestinya. Bukan nafsu yang nggak baik aja yang dipelihara.

Misalnya, nafsu ingin jadi pejabat dan berkuasa. Boleh-boleh saja. Asal setelah berkuasa, pegang amanah rakyat, pimpin negara ini dengan baik.

Semua pejabat bekerja sesuai dengan tugasnya. Yang urus pangan, ya kasih pangan rakyat dengan baik. Harga sembako stabil, jangan naik terus. Coba, sebentar lagi puasa, bisa nggak agar sembako dan barang-barang lain nggak kejar-kejaran naik?

Nafsu untuk membangun, juga boleh-boleh saja. Tapi, jangan semua lahan diisi dengan bangunan. Ruang resapan, malah diuruk ditanam beton. Munculnya apartemen dan mal. Rakyat yang biasa cari ikan dan udang di rawa, sekarang hanya bisa nonton orang-orang kaya pada hihahihiii, sambil makan enak!

Jangan juga diumbar nafsu, ketika melihat dana buat proyek yang jumlahnya milyaran bahkan trilyunan. Jangan pada berebut, bikin bancakan?

Itu nafsu jelek! Ya, kayak para pemerkosa itu, yang lihat cewek langsung saja birahinya naik, berkobar-kobar, dan mengumbar nafsunya dengan cara paksa!

Wahai ingat para pemerkosa, bayangkan kalau wanita itu adalah ibumu! Wahai para pemerkosa sadarlah, kalau nggak mau dikebiri!-massoes