Thursday, 20 September 2018

Warganya Lagi Berkabung Kades Malah Masuk Sarung

Selasa, 17 Mei 2016 — 6:20 WIB

KADES itu jadi panutan warga. Tapi dengan kelakuan Kades Karnoto, 40, jangan harap! Bagaimana tidak? Di kala ada warganya yang meninggal, dia bukannya ikut berkabung, eh malah masuk sarung bersama janda tetangga yang kesripahan. Maka warga pun menuntut Pak Kades dicopot dari kedudukannya.

Pak Kades itu tugasnya tak sekedar pelayanan administrasi pada warga, tapi juga pembinaan pada lingkungan. Karenanya Pak Kades harus bisa jadi percontohan bagi rakyatnya. Cuma di era gombalisasi ini, banyak terjadi Kades yang melenceng dari kewajibannya. Bukannya membina warga, tapi malah demenan dengan janda muda warga sendiri. Di mana sih?

Tuh, di Jombang, Jawa Timur. Karnoto yang jadi Kades di Cangkringrandu Kecamatan Perak, nasibnya kini di ujung tanduk. Tak lama lagi akan dicopot kedudukannya oleh Pak Bupati. Soalnya dia dilaporkan warga ngeloni janda warfa sendiri, di kala tetangga si janda ada kematian. Mestinya Pak Kades ikut takziah, eh malah di hotel mengumbar gairah, ah ah ah……..

Sebetulnya Kades Karnoto ini sudah berkeluarga dan beranak pinak. Namun demikian itu bukan berarti harus fokus pada keluarga saja. Dasar dia punya bakat mata keranjang. Di luar terlihat banyak janda mulus di wilayah pemerintahannya, jadi gatel rasanya jika tidak berbuat sesuatu. “Ketimbang dia nganggur, lebih baik kita manfaatkan potensinya.” Kata Pak Kades dalam hati.

Janda yang dimaksudkan Pak Kades itu adalah Tinuk, 30. Baru setahunan dia menyandang status baru akibat perceraian. Pak Kades yang biasanya biasa-biasa saja pada salah seorang warganya ini, begitu dicerai suaminya dia merasa ada peluang. Maksudnya mau dijadikan istri, begitu? Itu sangat tidak mungkin, karena Pak Kades menyadari akan statusnya yang sudah berkeluarga. Jadi kalau mau, paling-paling ya harus pakai jalur independen, kata batin Pak Kades lagi.

Secara pelan tapi pasti, Kades Karnoto terus mengadakan lobi-lobi kecil pada janda Tinuk yang mlenuk (baca: seksi) itu. Ternyata tidak susah-susah amat menaklukkan sijanda. Buktinya, baru 3-4 kali kunjungan, Tinuk sudah mau diajak pergi berdua, bahkan masuk hotel. Maka mau apa lagi? Setelah berhasil menjalin koalisi, di tempat itulah saatnya ada eksekusi.

Bila kondisinya sangat kondusif atau aman secara mantap terkendali, Kades Karnoto – Tinuk pasti masuk hotel, menggeber asmara. Tapi sial yang terjadi beberapa minggu lalu. Saat dia baru masuk hotel, eh ada SMS masuk yang mengabarkan bahwa ada warga yang meninggal, kebetulan tetangga Tinuk lagi. Mestinya Pak Kades langsung bergegas takziah. Tapi dia tidak, bukannya berkabung malah segera masuk sarung. Alasnanya, “Pulang cepet pun takkan nyawanya kembali balik.”

Tapi rupanya ketika Karnoto-Tinuk masuk hotel berdua-dua, ada salah seorang warganya yang memergoki. Langsung saja dirilis lewat HP canggihnya, sehingga sejumlah warga berbondong-bondong menggerebeknya. “Tetangga berkabung, kok malah masuk sarung,” kata para penggerebek.

Selesai pemakaman, warga pun berunjukrasa ke kantor kabupaten dengan membawa poster, di antaranya berbunyi: “Enek Masyarakat Sing Mati Kok Ditinggal Kelon Nang Hotel”. Mereka menuntut Pak Kades segera dicopot. Untungnya Pak Bupati segera mereponnya, tidak pakai dalil “belum jadi tersangka”. Yakin akan janji Pak Bupati, warga pun membubarkan diri.

Gara-gara Pak Kades suka copot celana tak pada tempatnya. (BJ/Gunarso TS)