Saturday, 17 November 2018

Meneliti Untuk Tesis S-2, Guru SMA Malah Cabuli Bocah

Sabtu, 21 Mei 2016 — 17:29 WIB
Tersangka JS. (Saban)

Tersangka JS. (Saban)

BEKASI (Pos Kota) – Guru SMA Negeri di wilayah Jakarta Timur, yang tengah meneliti untuk tesis S-2, malah tega mencabuli 10 anak lelaki  yang juga tetangganya. Bahkan, aksi bejatnya itu, dilakukan tersangka di rumahnya, di Perum Mutiara Gading Timur, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi.

JS (40), tersangka ini  dilaporkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Bekasi Kota. Tersangka, akhirnya digelandang penyidik pada Jumat (20/5) malam.

JS yang memakai seragam tahanan dan penutup wajah (balaclava) ini, hanya tertunduk malu. Dia irit berbicara saat ditanya wartawan, namun dia menegaskan bahwa profesinya adalah guru Agama di sekolahnya. “Saya PNS dan berstatus sebagai guru agama di sekolah,” ujar JS kepada wartawan di ruang Aula Mapolresta Bekasi Kota, Sabtu (21/5) pagi.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Bekasi Kota, Komisaris Rajiman mengatakan, pelecehan seksual yang dilakukan tersangka sudah dimulai sejak 2014 lalu atau ketika tersangka tengah menyelesaikan gelar magister (Sarjana 2).

Saat itu, JS tengah meneliti perilaku dan pergaulan anak remaja yang berusia 12-16 tahun di daerah permukimannya. Entah setan apa yang merasuki dirinya, tersangka lalu mengajak korbannya ke dalam rumah yang saat itu dalam keadaan sepi.

Awalnya JS meminta korban membuka celana dengan dalih hendak memeriksa pangkal pahanya. Agar niat jahatnya berhasil, JS kemudian memberi uang dengan nominal bervariasi dari Rp 20.000 hingga Rp 100.000. Korban yang tak tahu apa-apa itu kemudian mau menuruti keinginan pelaku. Setelah celana korban dilucuti, pelaku seketika mengalami ereksi.

Alat vitalnya kemudian digesekkan ke pangkal paha korban hingga dia berejakulasi. Usai melancarkan aksinya itu, JS kemudian memberi beberapa komik dengan harapan korban lupa dengan kejadian tersebut. “Pelaku ini memanfaatkan kepolosan korban untuk melakukan pelecehan seksual,” ujar Rajiman pada Sabtu (21/5) pagi.

Baru 10 Korban Mengaku

Rajiman melanjutkan, sejauh ini baru ada 10 korban yang mengaku pernah mendapatkan pelecehan seksual oleh pelaku . Seluruhnya adalah anak laki-laki yang biasa bermain di kawasan perumahan. Menurut dia, pelaku biasa melancarkan aksinya ketika sang istri tengah pergi ke rumah kerabatnya di daerah Tanjungpriok, Jakarta Utara.

“Pokoknya setiap istrinya pergi ke pasar atau ke rumah saudaranya, pelaku langsung memanfaatkan peluang ini untuk melecehkan korban di rumahnya,” jelas Rajiman.

Didampingi Kepala Sub Bagian Humas Polresta Bekasi Kota, Inspektur Satu Evi Fatna , Rajimanmenjelaskan kasus ini terungkap berdasarkan informasi warga setempat. Menurut dia, sejumlah ibu rumah tangga terkejut dengan tingkah laku anak-anaknya yang aneh.

Mereka heran karena anaknya pernah memperagakan adegan pelecehan seksual itu yang dilakukan tersangka. Hanya saja anak-anak itu masih mengenakan celana dan pakaiannya. Dari perilaku yang menyimpang itu, kemudian orangtua mendesak anaknya untuk memberitahu dari mana mereka bisa memperagakkan adegan tersebut. Bak disambar petir di siang bolong, para bocah kompak menunjuk bahwa mereka tahu dari JS.

Warga sempat tak percaya, karena JS dikenal sebagai sosok yang baik dan berstatus sebagai guru agama di sekolahnya. “Dari situ warga kemudian melaporkan ke ketua RT. Dan kami yang memperoleh kabar itu, langsung mengamankan tersangka ke Mapolresta Bekasi Kota,” ujar Evi.

Evi memastikan, seluruh korban tidak pernah disodomi pelaku, karena birahi JS sudah terpuaskan ketika alat kelaminnya digesekkan ke pangkal paha korban. Akibat perbuatan tersangka, kata Evi, sejumlah korban mengalami trauma sehingga perlu pengawasan khusus dari orangtuanya.

Oleh karena itu, Evi berencana akan menggandeng Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAID) Kota Bekasi bersama Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Kota Bekasi untuk memulihkan kondisi psikologi korban. (Saban)/win)