Friday, 21 September 2018

Dagang Burung di Ajang Kontes, Darmaji Bisa Kuliahkan Anak

Senin, 23 Mei 2016 — 19:37 WIB
Jual burung pleci di arena kontes bikin pedagang raih untung besar. (Joko)

Jual burung pleci di arena kontes bikin pedagang raih untung besar. (Joko)

JAKARTA (Pos Kota) – Kemanapun perginya event organizer (EO) penyelenggara kontes burung, selalu diikuti puluhan pedagang yang khusus jual pernak-pernik burung kicau. Sebab, penjualan di ajang lomba dapat menaikkan prestise sehingga dagangan bisa dijual mahal.

Itulah yang dilakukan sejumlah pedagang burung, pakan, sangkar, kaos tematik, dan lainnya. “Sebagai pedagang burung, kita harus bisa memanfaatkan  even lomba  untuk mendongkrak prestise,” ujar Darmaji, pedagang burung pleci dan ciblek di lokasi lomba burung kicau tingkat nasional di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Minggu (22/5) lalu.

Menekuni usaha jual burung di arena kontes, mendongkrak untung lebih banyak. “Dari jualan burung kecil (pleci dan ciblek) ini, hasilnya bisa buat membiayai kuliah anak,” ungkap pria asal Solo, Jawa Tengah, yang menetap di Pademangan, Jakut.

Seekor burung pleci yang dibelinya sekitar Rp 20 ribu/ekor, di kawasan kontes bisa laku Rp 250 ribu. Bahkan kalau burungnya sangat gacor bisa dilego Rp 1 juta. Keuntungannya menjual burung seukuran jempol tangan ini antara lain mudah dibawa dan sangkarnya juga kecil, seukuran 20×20 CM, sehingga sekali jalan bisa bawa puluhan ekor.

Adapun triknya adalah, burung yang baru dibeli dari pasar burung, dirawat beberapa hari di rumah.  Menurutnya, burung ini mudah jinak. Kalau sudah jinak dan belajar berkicau, maka harganya makin tinggi.

“Apalagi di arena kontes yang sering terjadi jual-beli burung jawara seharga puluhan juta rupiah, maka burung dagangan saya pun terdongkrak harganya,” ujar Darmaji yang cuma jualan tiap Sabtu dan Minggu saja, berbarengan dengan gelaran lomba atau latihan prestasi di Jabodetabek.

Menempel Terus EO

Kiat suksesnya adalah harus menempel terus kemana pun EO menggelar lomba. Pihaknya, dari komunitas pedagang  arena lomba, harus mengikuti kemana pun EO punya hajatan.

“Jadi, rata-rata kami jualan cuma dua hari seminggu, selebihnya merawat burung di rumah sambil melakukan pekerjaan serabutan. Hasilnya alhamdulillah. Anak sulung kuliah di Bandung, anak kedua dan ketiga bersekolah di sini,” paparnya.

Selain Darmaji terdapat belasan pedagang lainnya yang menjual sangkar, pakan, vitamin, kaos bergambar burung, dan pernak-pernik lainnya. “Kaos tematik merupakan salah satu primadona. Selalu laris-manis meski harga relatif mahal,” ujar Yuni, pedagang kaos bergambar burung yang harganya antara Rp 60 ribu dan Rp 100 ribu.

Padahal, kualitas bahan kaos ini sama dengan di pasar lain yang harganya cuma sekitar Rp 25 ribu. (Joko/win)