Tuesday, 23 October 2018

SARS DAN PAK HARTO

Kamis, 26 Mei 2016 — 5:59 WIB

Oleh Harmoko

SARS, ini istilah kesehatan, singkatan dari Severe Acute Respiratory Syndrome, sebuah penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus. Tetapi, SARS juga sebuah anekdot politik: Saya Amat Rindu Soeharto. “Piye kabare, enak jamanku to?” Bagaimana kalau Pak Harto diangkat menjadi pahlawan nasional? Perdebatan pun seru.

Perdebatan pro dan kontra tersimpulkan dalam dua hal: sisi positif Pak Harto dan sisi negatif Pak Harto. Sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai kearifan adiluhung, kita mengenal ajaran mikul dhuwur mendhem jero. Ajaran ini bermuatan pesan agar kita menjunjung kehormatan orang tua atau pemimpin dan menutupi sisi negatifnya ketika orang bersangkutan telah berpulang menghadap-Nya.

Apakah dengan begitu kita melupakan sisi-sisi negatif yang ada pada Pak Harto? Tidak. Kesalahan adalah sebuah kesalahan, yang dalam konsep mendhem jero harus bisa kita kubur sedalam-dalamnya, kita jadikan pelajaran untuk tidak kita tiru. Kesalahan atau kekhilafan beliau tentu juga tidak lantas meniadakan sisi positif yang ada pada beliau.

Sejarah telah mencatat bahwa Pak Harto memiliki jasa penting ketika terjadi perang mempertahankan kemerdekaan. Apa pun versinya, peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta tak bisa dipisahkan dari peran Pak Harto dalam menaklukkan pasukan Belanda.

Pak Harto pulalah yang dipercaya oleh Bung Karno sebagai Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat, 1962. Penunjukan Pak Harto itu dilatarbelakangi oleh pertimbangan militer, atas usul Menteri Keamanan Nasional Jenderal A.H. Nasuiton. Nasution menilai bahwa kala itu Pak Harto merupakan komandan di TNI yang menonjol. Operasi Mandala sukses. Irian Barat yang diduduki oleh Belanda bisa direbut kembali ke pangkuan NKRI.

Beberapa tahun kemudian, 1965, atas desakan masyarakat yang dimotori oleh para mahasiswa dan berbagai komponen sospol menyusul peristiwa G-30-S/PKI, Pak Harto sukses menumpas komunisme sampai ke akar-akarnya. Sejak itulah, Pak Harto semakin menunjukkan kelasnya sebagai militer ulung sekaligus politikus andal.

Sebagai militer sekaligus politikus, Pak Harto kemudian juga terbukti berhasil meratakan jalan demi terwujudnya cita-cita proklamasi kemerdekaan Indonesia, yakni menyejahterakan rakyat. Situasi perekonomian nasional yang hancur (inflasi mencapai 650%) dan ketidakstabilan politik pun berhasil ditangani.

Roda pembangunan terus digerakkan lewat Trilogi Pembangunan: stabilitas nasional yang dinamis, pertumbuhan ekonomi, dan pemerataan pembangunan. Pembangunan infrastruktur digencarkan, sektor pertanian digenjot, hingga Indonesia berhasil berswasembada pangan, bahkan berhasil mengekspor beras. Karena itulah maka Pak Harto kita gelari sebagai Bapak Pembangunan.

Bahwa demi stabilitas nasional terjadi ekses di sana-sini, tidak bisa terhindarkan. Itu semua adalah kebutuhan zaman. Tanpa stabilitas, bagaimana bisa melakukan pembangunan? Tanpa pembangunan, bagaimana bisa menciptakan kesejahteraan? Ada yang kecewa, juga tidak bisa dihindari. Bagi Pak Harto, orientasinya adalah kepentingan rakyat.

Mengingat hal-hal tersebut di atas, wacana tentang pemberian gelar Pahlawan Nasional bagi Pak Harto merupakan hal yang masuk akal, untuk menghargai jasa-jasa beliau, untuk menjunjung kehormatan beliau, sesuai ajaran mikul dhuwur mendhem jero. ( * )