Monday, 24 September 2018

Yang Pasti Setiap Ramadhan

Sabtu, 28 Mei 2016 — 5:27 WIB
harga

Oleh S Saiful Rahim

“TAHUKAH kalian apa yang pasti setiap bulan Ramadhan di negeri kita?” tanya Dul Karung sambil melangkah masuk ke warung kopi Mas Wargo setelah mengucapkan assalamu alaykum dengan fasih.

“Mesjid ramai dengan orang-orang yang salat Tarawih. Bahkan mereka yang biasanya lalai, bahkan tidak melakukan salat wajib lima kali sehari, tiba-tiba pada bulan Ramadhan ramai bersiduluan salat ke mesjid,” jawab entah siapa dan yang duduk di sebelah mana.

“Ah, itu sih bukan ciri khas Ramadhan di negeri kita. Di mana-mana pun begitu. Bahkan di negeri yang paling Arab pun demikian,” tanggap orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang, satu-satunya bangku yang ada di warung Mas Wargo.

“Harga-harga, selain harga diri, merebut melesat naik,” sergap orang yang tadi bergeser memberi tempat duduk untuk si Dul.

“Itu baru jawaban jempolan,” kata Dul Karung sambil mengulurkan tangan, menyambar singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Iya ya. Kenapa bisa begitu ya? Padahal setiap tahun ada bulan Ramadhan. Mengapa pemerintah tidak mampu mengantisipasi hal yang membuat rakyat menjerit itu sejak jauh-jauh hari?” respons orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Ini memang masalah yang pelik dan kompleks,” kata orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang, yang kemudian menyeruput kopi susu yang terhidang di depannya.

“Kecuali harga-harga di warung kopi ini. Di warung ini, puasa atau Lebaran tidak mampu mempengaruhi harga. Itulah hebatnya Mas Margo. Padahal seperti halnya orang-orang lain, Mas Wargo beli gula, kopi, teh, dan kebutuhan lainnya untuk warung ini di pasar yang sama. Tapi dia mampu mempertahankan harga jual dagangannya seperti pada bulan–bulan sebelum Ramadhan,” sergah Dul Karung sebelum menyeruput tehnya yang telah kehilangan asap karena mulai mendingin.

“Kalau tidak ada langganan sepertikau, yang terus menerus berutang, mungkin warung Mas Wargo ini memiliki daya tahan hidup yang lebih besar lagi. Mungkin pada saat semua pedagang berpacu menaikkan harga, Mas Wargo justru akan menurunkan harga dagangannya.
Kalau itu terjadi, masya Allah, betapa banyak pahala dan keberkahan yang akan dituai oleh pedagang kopi ini. Bukankah Allah Swt berjanji akan memudahkan hidup dan melimpah-ruahkan rahmat kepada mereka yang meringankan beban orang-orang yang sedang berpuasa,” kata orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Andaikata Mas Wargo menjadi presiden, mungkin….” gumam orang yang duduk tepat di depan Mas Wargo.

“Bukan mungkin, tapi pasti si Dul kehilangan warung tempat dia terus menerus bisa berutang,” potong orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung mengundang tawa hadirin. Bahkan sampai ada yang terbatuk-batuk.

“Eh, ngomong-ngomong tentang presiden, mengapa akhir-akhir ini Presiden Jokowi bepergian ke luar negeri melulu ya? Bahkan sampai hari ini, lima hari menjelang Ramadan, beliau masih berada di luar negeri,” kata orang yang duduk selang lima di kiri Dul Karung.

“Memangnya kenapa?” tanya Dul Karung dengan nada yang tiba-tiba tinggi. “Yang penting kan beliau telah berpesan kepada menteri-menteri selaku pembantu presiden, untuk melakukan ini, ini, dan ini. Menurut sahabatku, mendiang sastrawan Korrie Layun Rampan, jadi presiden itu gampang. Asal pandai memilih dan mengatur menteri-menteri sebagai pembantu beliau, maka semuanya akan beres. Untuk menjadi presiden orang tidak perlu pandai-pandai amatlah.

Pak Jokowi tampaknya memiliki kemampuan untuk itu. Para menterinya yang mulanya suka gaduh, yang begitu duduk di bangku menteri langsung kepret kanan, kepret kiri, sekarang pun akhirnya diam. Atau didiamkan Pak Jokowi. Kalian jangan lupa, presiden kita yang satu ini punya pengalaman dalam hal membuat dan menjual kursi. Jadi beliau paham betul harus menyediakan kursi yang bagaimana untuk orang yang bagaimana,” tutur Dul Karung sambil ngeloyor meninggalkan warung tanpa memedulikan orang yang berteriak-teriak memanggilnya untuk mendengarkan bantahan atau pendapat mereka. (syahsr@gmail.com)