Sunday, 18 November 2018

Orangtua Bocah Penderita Kanker Hati Berbagi Derita Dengan Bupati

Selasa, 31 Mei 2016 — 8:26 WIB
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi saat menerima pasutri dan bocah Aziza serta guru SDN 6 Cisereuh di rumah dinas. (dadan)

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi saat menerima pasutri dan bocah Aziza serta guru SDN 6 Cisereuh di rumah dinas. (dadan)

PURWAKARTA (Pos Kota) – Derita pasutri asal Purwakarta, Jawa Barat, saat tahu buah hati mereka yang masih berusia 10 tahun terkena penyakit kanker hati.

Adalah Shazia Aziza, bocah malang anak semata wayang pasutri Cepi Munawar dan Ny Siti Nurhasanah. Pasutri ini mengadukan nasib anaknya tersebut kepada Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, kemarin siang.

“Kami sudah hampir menyerah untuk biaya pengobatan Aziza. Setiap minggunya harus dikemoterapi Rp 5 juta,” ujar Siti.

Diungkapkan, Aziza menderita kanker hati sejak 2013. Keluarga mendapati kepastian penyakit Aziza usai memeriksa kesehatan Aziza yang kerap mengeluhkan sakit pada bagian perut. “Hasil rontgen diketahui ada pembengkakan pada bagian liver. Kami terpukul,” katanya sedih.

Siti menyebutkan, Aziza seharusnya segera mendapatkan tindakan operasi untuk kesembuhan penyakitnya. Tetapi karena kondisi tubuh yang tidak stabil, pihak rumah sakit tidak bersedia melakukan tindakan medis.

“Kami dianjurkan dokter untuk rutin melakukan kemoterapi karena untuk operasi pihak dokter mengatakan beresiko tinggi,” jelasnya.

BIAYA

Saat pasutri mulai “lelah” dengan biaya kemo, terbersit “membagi” derita dialami mereka dengan Bupati Purwakarta. Siti memberanikan diri melayangkan pesan singkat ke SMS Center Bupati Purwakarta.

“Alhamdulillah direspon. Saya dan suami disuruh datang ke rumah dinas (rumdin) bupati membawa serta Aziza,” katanya.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi langsung memberikan bantuan kepada keluarga tersebut untuk biaya operasional mengantar Aziza untuk kemoterapi. “Biaya untuk kemoterapi kan sudah ditanggung asuransi BPJS. Jadi ini untuk operasional saja,” ujar Dedi.

Dedi pun menyarankankan agar Aziza tetap mendapatkan hak pendidikan dengan cara belajar di rumah (home schooling). Aziza yang bersekolah di SDN 6 Ciseureuh ini setiap hari akan dikunjungi oleh gurunya. “Tetap bisa sekolah, nanti gurunya saja yang datang ke rumah,” pungkasnya.

(dadan/sir)