Saturday, 22 September 2018

Puasa Itu Terapi Jiwa (1)

Minggu, 5 Juni 2016 — 16:10 WIB
ilustrasi

ilustrasi

PUASA merupakan ibadah wajib kepada orang-orang beriman. Orang yang berpuasa hendaknya mengerti dan memahami secara benar makna dan hakikat ibadah puasa. Modal dasar mengerjakan ibadah puasa adalah ikhlas,  serta berusaha menjauhkan segala hal-hal yang merusak dan membatalkan ibadah puasa.

Ibadah puasa, sebenarnya adalah obat atau terapi jiwa. Dalam sebulan (Ramadhan), umat Islam sedunia akan dilatih dan digembleng untuk menjadi manusia muttaqin, yaitu memiliki akhlak yang mulia,  dan terbebas dari noda dan cela.

Orang yang puasa, akan selalu taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah), lebih rajin sholat wajib dan sunnah, berkata jujur, tidak suka berbohong atau berdusta, tidak korupsi, tidak suka membuka aib sesama, tidak menulis sesuatu di media sosial (medsos) bersifat fitnah, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi, serta cinta kepada saudara seiman.

Kemudian, tidak memandang atau berbuat sesuatu yang diharamkan oleh Allah. Orang yang berpuasa harus ikhlas serta mengamalkan ibadah puasa Ramadhan sesuai Syariat Islam. Sebab, menahan diri dari makan, minum dan mengendalikan hawa nafsu, terhitung sejak imsak hingga waktu berbuka (maghrib), tidak lain hanyalah upaya seorang hamba untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Melalui puasa, sebenarnya adalah suatu terapi seseorang untuk memperbaiki diri. Sebab, puasa telah menanamkan nilai-nilai kejujuran dan keikhlasan. Orang yang puasa harus bisa mengendalikan emosi. Tidak berkata-kata kotor dan sia-sia, bahkan dinukilkan apabila seseorang dicaci-maki, maka ia akan mengatakan `saya sedang berpuasa`.
Rasulullah SAW bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka hendaklah ia tidak (berkata atau berbuat) yang keji dan berteriak-teriak. Bahkan, jika ada yang mencaci dan ingin membunuhnya, maka hendaklah ia mengatakan, `saya sedang berpuasa.` (HR Bukhari).

Dan Sabda Rasulullah SAW:
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka sungguh Allah tidak butuh dengan puasanya,” (HR Bukhari, At-Tarmizi, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).

Dua dalil ini, sudah cukup menjadi dasar kuat bahwa puasa merupakan `madrasah` pendidikan akhlak. Hanya saja, terpulang kepada diri kita masing-masing, apakah puasa dapat membuahkan hasil prima, atau kita hanya memperoleh haus dan lapar, sementara hasilnya nol besar, karena puasa tidak dapat melakukan perubahan dalam diri sendiri. Kebiasaan buruk tetap ada, tidak jujur kepada diri sendiri dan kepada Allah SWT, maka puasa hari ini tentulah akan menjadi sia-sia belaka.

Marilah saudaraku, kita sama-sama belajar dan memperbaiki diri, melalui terapi puasa. Sebulan ke depan, kita berlomba-lomba untuk meraih nilai tertinggi, karena orang yang puasa tentu akan menyelesaikan program studi dengan baik dan tepat waktu. Kemudian lulus dengan judicium memuaskan. Insya Allah, tujuan puasa yakni menjadikan manusia takwa (muttaqin) bakal tercapai. Wallahua’lam Bis-Shawab. (syamsir)