Saturday, 20 July 2019

Wawali Tangsel Ajak Ulama Bantu Atasi Masalah Moral Remaja

Senin, 6 Juni 2016 — 22:04 WIB
Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie. (anton)

Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie. (anton)

TANGERANG (Pos Kota) – Jajaran Lembaga Pengembangan Tilawati Qur’an dan sekitar 532 pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) diajak untuk turut membantu mengatasi masalah moral dan akhlak di kalangan remaja, dan tindak kejahatan.

Hal itu diungkapkan Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie, Senin (6/6) di LPTQ Ciputat. Davnie menajak mereka untuk ikut mengantisipasi serta memperkecil tindak kejahatan berkaitan dengan krisis moral, ahlak dan agama di kalangan anak-anak belakangan ini yang semakin meningkat akibat perkembangan kemajuan dan teknologi.

“Tokoh masyarakat, alim ulama dan pengurus DKM di Kota Tangsel termasuk jajaran Pemkot tentunya memiliki beban moral dalam menanggulangi masalah krisis moral, ahlak dan agama di kalangan anak-anak, remaja dan dewasa lainnya belakangan ini,” kata Wakil Walikota

Sejumlah kasus tindak kejahatan dan kekerasan seksual yang belakangan ramai terlebih pelaku dan korban kebanyakan dari kalangan anak-anak tentunya membuat cemas dan perlu disikapi seluruh elemen masyarakat terlebih dengan semakin berkembangnya tekonologi yang semakin maju belakangan ini.

Perkembangan itu, ujarnya tentunya memiliki dampak positif bagi perkembangan teknologi tapi juga dapat berdampak negatif bagi anak-anak dan remaja seperti yang pernah terjadi di Jombang, Kecamatan Ciputat beberapa waktu lalu yang dilakukan oleh I,14, mencabuli sejumlah bocah.

Lebih menyakitkatkan hati pelaku adalah anak tsanawiyah di Tangsel alas an melakukan perbuatan tak senonoh karena melihat tayangan yang tak patut di handphone. Pancasila sebagai dasar Negara, ideology dan falsafah sudah tak dikenal lagi oleh anak-anak dan kekosongan ini yang dimanfaatkan orang lain yang tidak menginginkan bangsa Indonesia kuat dan bermartabat.

“Pancasila sudah tak lagi diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan sedangkan teknologi terus dijejali hingga merasuk kea lam pikiran tanpa bias disaring oleh anak-anak dalam menggunakan pernagkat teknologi,” tuturnya untuk itulah LPTQ dan jajaran DKM hendaknya dapat membuat terobosan baru dalam mengantisipasi serta mencegah masalh tersebut.

Terobosan itu, imbuh dia, tentunya bias dilakukan dengan merancang program pendidikan dan kegiatan yang dapat mengubah pola piker anak-anak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan Islam. “Yang jelas ada ruang kosong dalam pribadi diantara masyarakat kita serta harus ditangani agar generasi muda Tangsel dapat cerdas, modern dan religius,” tuturnya. (anton/win)