Tuesday, 13 November 2018

Puasa Itu Terapi Hidup Berlebihan (2)

Senin, 6 Juni 2016 — 10:44 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

Saudaraku, puasa itu obat dan sekaligus terapi. Puasa dapat mengobati dan mencegah gaya hidup berlebih-lebihan. Sebab, ibadah puasa dapat mengatasi berbagai penyakit, termasuk kikir dan bakhil.

Puasa Ramadhan yang kita tunaikan saat ini, penuh keimanan serta hanya  mengharap Ridho Allah SWT, maka seharusnya segala bentuk sikap yang tidak terpuji pada diri kita otomatis akan terkikis habis hingga menjadi manusia  fitrah (suci). Sebulan ke depan, umat Islam dengan berbagai status sosial dan ekonominya, akan menjalani pendidikan dan latihan (Diklat) `Ramadhan`. Intinya adalah terbentuknya sikap manusia menjadi lebih saleh, dermawan dan peduli orang susah.

Sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosanya. Barang siapa tekun beribadah di bulan Ramadhan, maka diampuni dosanya. Dan barang siapa tekun beribadah pada malam Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosanya,” (HR Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya, saat orang berpuasa, tentu berharap dapat pahala berlipatganda. Orang puasa juga akan merasakan betapa pedihnya derita orang miskin. Tidak bisa makan dan tidak bisa mengenakan pakaian baru. Mereka tidak punya rumah, tidak bisa liburan atau belanja barang-barang mewah dan seterus-seterusnya. Melalui ibadah puasa ini hendaknya makna solidaritas sesama umat harus lebih kuat, karena Allah SWT menguji umatnya melalui ibadah puasa, apakah orang puasa itu dapat mengamalkan nilai-nilai kesalehan secara hakiki (?).

Terapi puasa akan membekas,  apabila orang kaya yang puasa akan lebih dermawan. Tidak hidup bermewah-mewahan. Tidak akan membiarkan tetangganya mati kelaparan. Jika ada orang miskin meninggal dunia karena kelaparan, maka orang pertama yang berdosa adalah orang kaya yang menjadi tetangganya. Sesungguhnya, ajaran Islam sangatlah konfrehensif (menyeluruh) dan mengatur tatanan hidup seorang muslim hingga masalah sekecil-kecilnya. Jelaslah, puasa Ramadhan mengandung banyak faedah dan keutamaan.

Orang puasa tentu akan mengetahui betapa berharganya suatu nikmat Allah SWT. Nikmat itu akan terasa apabila kita tidak mendapatnya lagi. Misal, nikmat kesehatan akan lebih terasa dan berharga setelah mendapat sakit. Orang kaya akan merasakan nikmat harta bendanya, apabila ia jatuh miskin dan hidup bangkrut. Demikian juga orang kikir dan bakhil, akan ia mengerti dan memahami apabila dia sendiri merasakan betapa penderitaan orang miskin dan hidup lapar.

Saudaraku… mari kita ambil hikmah puasa ini dengan peningkatan pengamalan, dimulai dari  lingkungan terdekat. Tidak hanya berubah pada saat puasa Ramadhan, tapi harusnya berkelanjutan di bulan-bulan mendatang. Moga Allah menjadikan kita mengalami perubahan dratis (hijrah) dari yang perbuatan buruk menjadi manusia takwa (muttaqin). Belajar hidup dari makna puasa, maka hendaknya kita akan lebih peduli keluarga, tetangga, masyarakat dan saudara-saudara kita seiman. Mari kita mulai sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Wallahu a`lam bisshowab. (syamsir)