Thursday, 22 August 2019

Janjinya Seminggu Tiga Kali Akhirnya Malah Ditalak Tiga

Sabtu, 11 Juni 2016 — 6:18 WIB
impoten

SEPERTI janji politisi ikut Pilkada, Heru, 36, siap melayani istri di ranjang 3 kali dalam seminggu. Tapi prakteknya, tiga bulan menikah hanya disentuh lima kali, itu pun tak memuaskan. Kecewa dengan “burung” suami yang berukuran mini, Maryuni, 30, menuntut cerai di PA Surabaya, maunya talak 3 saja sekaligus.

Setiap wanita mendambakan suami yang ganteng, kaya, punya status sosial yang membanggakan. Tapi tak semua target itu bisa tercapai, karena menusia memang bukan makhluk yang sempurna. Ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ada yang ganteng, tapi kantongnya kosong. Ada yang orangnya jelek, tapi pintar mencari uang. Paling celaka adalah, sudah tampang jejek, jelek pula peruntungan rejekinya.

Heru yang tinggal di Jojoran Surabaya ini bukan tipe seperti itu. Dia nyaris jadi lelaki sempurna. Ganteng, kulit bersih, berkumis, kaya dan bekerja dalam posisi wakil direktur perusahaan bonavid, bukan PT abal-abal yang tak jelas THR-nya menjelang Lebaran. Sayangnya, meski jadi pria idaman, ternyata hingga umur 7 pelita belum juga menikah. Bagaimana mau nikah, lha wong pacar juga tidak punya.

Keluarga yang prihatin kemudian memperkenalkan dengan Muryani, pegawai bank papan atas di Surabaya. Muryani kali pertama melihat Heru, langsung terpesona. Maka tanpa menunggu lama, Maryuni mendesak segera dinikahi biar segera bisa eksekusi setelah berkoalisi.

Saat pacaran dalam rangka penjajakan dan penyesuaian, Heru beberapa kali mengajak jalan ke tempat-tempat wisata. Maryuni yang sudah ngebet punya suami ganteng, pernah nawari supaya Heru kasih “DP” dulu alias hubungan intim sebelum nikah. Tapi pejabat bank itu menolak dengan alasan takut dosa. “Nanti saja kalau sudah resmi, kamu akan kuhubungi seminggu 3 kali.” Kata Heru meyakinkan.

Tentu saja Maryuni tambah respek pada bakal suaminya ini, berarti lelaki ini orang alim, taat ibadah. Sebab dewasa ini, yang namanya oknum ustadz justru di sana sini “ngebon” santrinya, seakan tidak takut dosa. Kok ini malah berkebalikan. Wah, ini layak jadi suami. Nantinya lelaki model begini musti anti punya WIL, apalagi poligami.

Tapi apa yang menjadi bayangan Maryuni meleset total. Setelah menikah dia tak bisa menikmati masa-masa indah pengantin baru itu. Meski diisi dengan liburan ke Bali segala, Heru ternyata tak bisa bicara banyak di atas ranjang. Katanya lelaki normal, tapi “burung” miliknya terlalu imut-imut, bila tak mau disebut sebagai asesoris belaka. Karenanya di atas ranjang sangat mengecewakan. Bahkan janji seminggu tiga kali untuk berhubungan intim, juga hanya retorika belaka.

Rumahtangga kan juga mendambakan hadirnya keturunan. Jika suami model begini, begituan saja tidak bisa, bagaimana bisa punya anak yang sehat dan kuat? Mumpung belum terlambat, Maryuni segera menggugat cerai ke Pengadilan Agama Surabaya. Di depan majelis hakim tanpa malu-malu Maryuni cerita bahwa “burung” suami tak lebih dari 5 cm. “Langsung talak tiga saja Pak.” Kata Maryuni.

Heru yang ada di sampingnya hanya tersipu-sipu ditelanjangi istri di depan majelis hakim. Untuk menutupi rasa malu, dia memilih sibuk main HP android. Sepertinya dia pasrah bila Maryuni menuntut cerai, karena kondisi pisiknya memang begitu, hanya 5 cm baik pagi, siang, sore maupun malam.

Kaso saja nggak hanya 5 cm, tapi 5/7 sehingga bisa dibuat usuk rumah. (JPNN/Gunarso TS)