Friday, 18 August 2017

GIMNI Akan Cegah Harga Minyak Goreng Melambung Jelang Lebaran

Minggu, 19 Juni 2016 — 10:32 WIB
ilustrasi

ilustrasi

JAKARTA (Pos Kota)-Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengatakan pihaknya akan berupaya menjaga agar harga minyak goreng tidak akan melambung menjelang Idul Fitri. Untuk itu pihaknya siap mengikuti arahan pemerintah untuk melaksanakan operasi pasar (OP) agar harga bisa stabil.

“Harga minyak goreng non kemasan di tingkat pabrik sudah turun dari Rp 10.300 per kilogram pada pertengahan Mei menjadi Rp 10.100 per liter pada akhir Mei,” katanya dalam bincang-bincang santai dengan media bersama dengan GIMNI, Asosiasi Biofuel Indonesia (Aprobi), dan Asosiasi Perusahaan Oleochemical Indonesia (Apolin).

Menurut Sahat, harga minyak goreng curah dari tingkat pabrik akan naik biayanya setelah sampai di tangan agen distributor dan pedagang ritel. Dari pabrik ke pedagang selisih harganya Rp 762 per kilogram. Lalu dari agen ke pedagang ada biaya tambahan untuk kemasan sekitar Rp 1.142 per kilogram.

“Melihat selisih harga dari pabrik sampai kepada pedagang, maka harga minyak goreng di pasar pada Juni ini paling masuk akal sekitar Rp 11.954 per kilogram atau setara Rp 10.500 per liter. Tetapi, kami tidak bisa mengontrol pedagang kalau harga naik,” tambahnya.

Para pedagang mengambil margin kebesaran, mengakibatkan saat ini harga minyak goreng di atas Rp 12.000 per kilogram. “Jadi kalau dikatakan harga minyak goreng naik, kami tidak mengerti karena di tingkat produsen justru menurun. Kalau harga eceran di tingkat pedagang, kami tidak bisa mengontrol sampai sejauh itu,” ujarnya.

Sahat meminta semua pihak baik dari kalangan pemerintah tidak menuding produsen minyak goreng ambil untung besar di bulan Ramadhan. Pasalnya, harga minyak goreng mencerminkan kondisi harga minyak sawit sebagai bahan baku minyak goreng di pasar global. Kalangan produsen tidak bisa mengendalikan harga jual minyak goreng dari pedagang di pasar ritel kepada konsumen.

Pada OP harga jual minyak goreng kemasan rata-rata Rp9.700 per liter. Dengan harga tersebut produsen tidak untung karena biaya angkut tidak ikut diperhitungkan.

Pada masa puasa dan Lebaran tahun ini, puncak konsumsi minyak goreng pada bulan Juni diproyeksikan sebesar 622.000- 630.000 ton. Untuk itu, produsen meningkatkan produksi minyak goreng curah menjadi 680.000 ton dari rata-rata produksi periode Januari-April 2016 sebanyak 550.000 ton per bulan.

Secara umum penjualan minyak goreng pada Juni ini hanya meningkat 14% dibanding rata-rata penjualan bulanan periode Januari-Mei 2016. Angka tersebut lebih rendah, akibat lesunya ekonomi, dibanding penjualan menjelang Lebaran tahun 2015 yang terjadi kenaikan 16% dibandingkan dengan harga normal.

(faisal/sir)