Friday, 21 July 2017

Hadang Truk ke Bantar Gebang, Pendemo: Jumlah Sampah Kebanyakan

Kamis, 23 Juni 2016 — 16:06 WIB
untas

BEKASI (Pos Kota)- Warga yang berunjuk rasa menghadang truk sampah masuk ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TSPT) Bantargebang mengaku tidak mempersoalkan surat peringatan ke-tiga (SP-3) yang diterima pengelola sampah. “Ini kami lakukan karena volume sampah yang masuk ke TPST, setiap hari tidak sesuai perjanjian kontrak,” ujar Bonin, pengunjuk rasa.

Soal SP-3, menurut Bonin, bukan persoalannya karena itu teknis antara PT Godang Tua Jaya (GTJ) selaku pengelola dengan Pemerintah DKI Jakarta. “Yang kami persoalkan, jumlah sampah yang masuk TPST harus sesuai dengan kontrak kerjasama,” lanjut Bonin.

Bonin mengatakan, DKI sudah melanggar perjanjian kerjasama dengan pengelola, bahwa sampah yang masuk ke TPST berjumlah 2.000 ton. Kenyatannya, jumlah sampah mencapai 6.000-7.000 ton per hari.

“Kita sudah berkirim surat ke DKI bahkan memasang spanduk soal hal ini. Tapi tidak ada sikap yang baru dari DKI,” kata Bonin.

(Baca: Truk Dilarang ke Bantar Gebang, Sampah Warga Mulai Numpuk)

Bukan hanya jumlah sampah yang dipersoalkan, kata dia, tapi warga juga menolak swakelola TPST Bantar Gebang. Penolakan ini, ujar dia, berkaca pada pengalaman pada tahun 1989-2003 lalu, bahwa swakelola TPST yang dilakukan saat itu amburadul.

“Dulu sudah pernah diterapkan swakelola TPST, cuman warga tidak mendapat kompensasi apapun. Bahkan bantuan obat saja tidak, kami khawatir kejadian itu akan terulang kembali bila diswakelola,” ungkap Bonin.

Wandi, koordinator aksi, menambahkan bila DKI keukeuh ingin mengambil alih TPST secara swakelola, sebaiknya terlebih dahulu memaparkan konsep swakelola tersebut ke warga. Pemaparan itu perlu dilakukan, karena warga sekitar perlu mengetahuinya sebab mereka bersentuhan langsung dengan sampah DKI.

“Kalau mau swakelola silakan, tapi paparkan dulu konsepnya ke kami. Tentunya sampah yang masuk ke sini juga tetap dibatasi, maksimal 5.000 per hari,” ucapnya.

Dia juga mendukung upaya DKI dalam mengolah TPST menjadi lokasi industri sampah. Alasannya, stigma masyarakat soal Bantar Gebang sangat buruk. “Orang kalau sudah dengar lokasi Bantar Gebang, pasti dia bakalan nutup hidung karena di sini lokasi pembuangan sampah,” katanya. (saban)