Sunday, 23 September 2018

Jangan Dirusak Kain yang Sudah Ditenun

Senin, 27 Juni 2016 — 7:45 WIB
SENTILAN MASSOES 270616

SETELAH melamun hampir sepanjang hari Bang Jalil baru beranjak dari bale bale malasnya. Dia ngulet dan melepaskan napas melalui mulutnya, wus, wus,wus! Lumayan segar.

Bang Jalil memang biasa leha-leha di rumah sambil ngelamun, angannya berkelana kemana saja, mumpung sang istri lagi ke pasar. Tapi, baru saja, dia mau merebahkan tubuhnya lagi di bale, tiba-tiba suara yang tak asing mampir di telinganya.” Bapak dari Ibu jalan sampai pulang masih tiduran?”

Seperti biasa, Bang Jalil lebih suka diam kalau sang istri berceloteh. Apalagi ini bulan puasa, jangan sampai batal gara-gara ribut. Lagi pula malu sama tetangga.

Tapi sang istri masih terus bicara, “Pak, uang yang dikasih Bapak cuma pas-pasan doang. Semua harga barang naik. Ini masih untung, Ibu beli yang diskon. Tapi, belanjaan buat kue dan masak lebaran seperti gula, terigu, daging, ikan nggak ada yang diskon. Malah naik semua!”

”Ibu pernah dengar nggak, kisah tentang seorang nenek menenun pakaian selama satu bulan, tapi sarung yang sudah jadi dan indah itu kemudian dirusak kembali menjadi benang?” bicara Bang Jalil.

“Apa maksud Bapak?” tanya sang istri.

“Maksudnya, jangan sampai puasa Ibu sia-sia selama satu bulan, karena dirusak dengan keluhan ibu. Seharusnya Ibu bersyukur. Ibu masih bisa belanja dengan uang sendiri dengan wajar. Ibu lihat nggak tuh, banyak ibu-ibu yang pingsan ngantri sembako murah dan zakat?” kata sang suami.

Kali ini sang istri terdiam, merenung.” Iya, ya. Apa sih yang saya cari selama ini, kan Allah SWT sudah memberikan banyak rezeki melalui suaminya yang selalu memberi uang walau pas-pasan. Apa yang kurang? Kalau kurang-kurang sedikit wajar. Namanya juga manusia, nggak ada puasnya

“Tapi kita harus pandai menahan hawa nafsu. Kalau nggak bisa bahaya, lihat tuh yang serakah, pada korupsi. Mereka ditangkap petugas. Mau, uang banyak tapi dipenjara?” ujar Bang Jalil.

“Amit-amit deh, Pak,” kata sang istri. – massoes