Friday, 19 April 2019

MAKIN RAMAI

Rabu, 20 Juli 2016 — 5:46 WIB

“SEKARANG urusan sekolah kok repot amat,” kata Lukman.

“Maksud kau apa sih,” kata Soleh sambil membalik-balik koran.

“Coba kau pikir. Mau ujian nasional ramai, sampai bikin doa bersama. Dulu tak ada kita begitu. Ujian ya ujian. Sudah itu ramai beli baju seragam dan buku. Dulu juga tak ada begitu. Lalu masuk sekolah, ramai lagi. Menteri menyuruh orangtua mengantar anaknya ke sekolah pada hari pertama, ada yang tak setuju,” kata Lukman.

“Ya itulah dinamika. Dulu kan kita nggak pakai buku tulis, pakai batu tulis, batu lei, sabak namanya. Nulisnya pakai grip, mana bisa pakai pinsil. Ini memaksa kita kuat menghapal. Karena tulisan di batu tulis kan nantinya dihapus, lain dengan buku tulis,” kataku.

“Yang penting itu, jangan ganti menteri, ganti cara pendidikan. Ini yang bikin repot. Mungkin karena itu maka anak sekolah habis ujian, bajunya dicoret-coret, dia pikir nggak bisa diwariskan kepada adik atau saudaranya,” kata Soleh.

“Soal repot, kini partai-partai juga repot menentukan bakal calon Gubernur DKI 2017. Yang sudah ketahuan Nasdem, Hanura sama Golkar, sudah putuskan Ahok. Yang lain kan belum,” kataku.

“Kalau begitu yang bikin repot itu Ahok dong,” kata Lukman.

“Bisa juga dibilang begitu. Tapi juga bisa dibilang, PDI-P sih lama memutuskannya, jadi Ahok maju independen. Coba tidak, kan nggak jadi begini. Kalau Gerindra kelihatannya sudah patah arang karena ditinggalkan Ahok. Maka Gerindra sekarang paling aktif menghadangnya,” kataku.

“PDI-P katanya bakal mengumumkan bakal calonnya hari Kamis,” kata Soleh.

“Oh ya? Risma atau Djarot?” tanya Lukman.

“Kita lihat saja nanti. Bakal ramai,” jawab Soleh.

“Bakal ramai lagi kalau bakal calonnya Ahok,” kataku.

“Apa mungkin?” tanya Lukman.

“Bisa saja. Kan di politik itu dua kali dua belum tentu empat, bisa lima, bisa tiga,” kataku.

“Ya juga. Jadi sama dengan cerita ngantar anak ke sekolah pada hari pertama,” kata Soleh.

“Bagaimana ceritanya,” desak Lukman.

“Hari pertama sekolah, Pak Menteri perintahkan agar orangtua mengantar anaknya ke sekolah. Sampai di sekolah ternyata hanya murid dan orangtuanya saja yang ada. Guru-gurunya tidak ada yang hadir,” kata Soleh sambil minum.

“Terus bagaimana ceritanya,” desak Lukman lagi.

“Ya, Kepala Sekolah bingung. Dia telepon guru yang tak hadir, ditanya ke mana. Jawabannya sama, sedang mengantar anak ke sekolah,” kata Soleh. Persis saat itu azan. (lubis1209@gmail.com)

  • guntur

    Ya begitulah sekolah jaman reformasi,
    sekolah SMA di dusun saja tiap bulan
    harus bayar Rp.50.000,belum beli bu
    ku buku pelajaran yg tidak murah har
    ganya bagi petani,lain dengan jaman
    dulu sekolah SMA tidak ada bayar2 uang sekolah,terus dana BOS itu utk
    apa ya???????