Sunday, 23 September 2018

Sidang Kopi Beracun, Hakim Konfrontir Soal Bungkus Sedotan

Rabu, 20 Juli 2016 — 16:00 WIB
Jessica Kumala Wongso bersama pengacara dan jaksa mendekat ke meja hakim dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. (silaen)

Jessica Kumala Wongso bersama pengacara dan jaksa mendekat ke meja hakim dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. (silaen)

JAKARTA (Pos Kota) – Runner atau pengantar makanan dan pembersih meja di Kace Olivier menjadi saksi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (20/7/2016). Dalam sidang itu, ia mengaku tak memasukkan sedotan ke gelas es kopi yang dipesan terdakwa Jessica Kumala Wongso.

Agus Triyono, saksi, mengatakan mengantar pesanan ke meja 54 yang telah dipesan Jessica. Ia mengaku tak tahu pemesan minuman dan tak pernah bertemu sebelumnya.

“Saya hanya mengambil kopi dari barista (pembuat kopi) yang ada di atas tray (nampan) lalu nganterin ke meja 54,” katanya.
Usai memegarakan cara mengambil kopi dari barista seperti yang diminta hakim ketua Kirworo, Agus mengatakan tak ada yang aneh dari kopi ytang dibawanya. Warnanya coklat dan baunya layaknya kopi normal.

“Saya tidak memasukkan sedotan ke dalam gelas,” ujarnya. “Saya menuangkan kopo seperti standar dari Olivier menyajikan Vietnam Coffee.”

Selanjutnya, sambung dia, dua perempuan yang belakangan diketahui sebagai Mirna dan Hani mendatangi Jessica. Seperti perempuan saat bertemu, mereka mencium pipi kanan kiri.

Agus mengaku tak ingat ada barang lain di meja itu, termasuk tiga paper bag yang dibawa Jessica ketika kembali masuk usai memesan tempat di kafe tersebut.

Kepada Agus, Jessica menanyakan padanya jenis kopi yang digunakan Vietnam Coffee. “Saya jelaskan kopinya adalah robusta dan rasanya masih agak strong. Kalau masih pahit bisa minta server kasih susu lagi,” katanya.

Hakim pun menanyakan bungkusan sedotan, “sedotan dibungkus pakai apa?”

“Itu cuma ujungnya saja yang dibungkus. Badan sedotan juga enggak ada (bungkusnya),” jawabnya.

Hakim beranggapan keterangan Agus dan Marlon berbeda. Dalam kesaksian sebelumnya, Marlon mengatakan seluruh badan sedotan terbungkus, sedang Agus menyebut hanya bagian atas sedotan yang terbungkus.

Hakim kemudian memanggil Marlon untuk dikonfrontir tentang bungkus sedotan itu. Marlon pun menyebut bahwa sebelumnya ia mengatakan hanya bagian atas sedotan yang tertutup.

(Baca: Sidang Jessica, Pegawai Kafe Anggap Tak Biasa Traktiran Dibayar Langsung)

Pada kesaksian sebelumnya, hakim memasalahkan soal penyajian sedotan. Pegawai mengatakan hanya pemesan yang berhak menaruh sedotan ke dalam gelas minumannya.

Dalam sidang ini, Jessica dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana. Ia menjadi terdakwa setelah Wayan Mirna Salihin tewas usai memibum es kopi Vietnam tersebut. Hasil penyelidikan polisi, ada racun sianida dalam kopi yang membuat perempuan cantik itu meregang nyawa. (silaen/yp)