Saturday, 26 May 2018

BPK Audit Investigasi Pembangunan JLNT Ciledug-Blok M-Tendean

Kamis, 21 Juli 2016 — 7:59 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA (Pos Kota) – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) akan melakukan audit investigasi terhadap belanja modal Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI, khususnya anggaran yang digunakan untuk pembangunan jalan layang sebidang dan tidak sebidang.

Secara khusus BPK akan mengaudit pembangunan Jalan Layang Non Tol (JLNT) Ciledug-Blok M-Tendean yang merupakan proyek jalan layan bus Transjakarta Koridor XIII.

Untuk itu, Pemprov DKI melakukan rapat khusus dengan BPK Perwakilan DKI Jakarta dalam rangka invetigasi pada Dinas Bina Marga DKI Jakarta di Balai Kota DKI, Jakarta, Rabu (20/7).

Pengerjaan fisik proyek itu telah dilakukan sejak tahun 2015. Pembangunan jalan layang sepanjang 9,4 kilometer dengan lebar 9 meter yang dibangun dua lajur tersebut dibagi menjadi delapan segmen atau paket proyek.

“Jadi ini pertemuan awal karena BPK mau melakukan investigasi pada belanja modal yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta. Mereka akan melakukan pendalaman terhadap delapan paket yang sekarang sedang dikerjakan,” kata Djarot seusai rapat dengan BPK Perwakilan DKI di Balaikota, Rabu (20/7).

Kedua pihak, baik Pemprov maupun BPK, sudah sepakat dalam melakukan proses pemeriksaan tidak akan mengganggu percepatan penyelesaian JLNT tersebut. Sebab investigasi ini dilakukan untuk melakukan pencegahan adanya penyimpangan penggunaan anggaran yang dapat menimbulkan kerugian negara.

“ Belum ada kerugian negara atau pelanggaran hukun. Ini kan pemeriksaan rutin saja. Justru dengan pemeriksaan ini supaya bisa mencegah sejak awal kalau diduga ada penyimpangan-penyimpangan yang merugikan keuangan negara,” jelasnya.

Invetigasi akan dilakukan BPK selama 60 hari. Mereka akan memeriksa penggunaan anggaran dan pelaksanan pembangunan tersebut. Karena itu, Djarot meminta Dinas Marga DKI tidak usah takut terhadap investigasi BPK tersebut.

Sebab, tujuan dari investigasi ini untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan anggaran. Serta mencari solusi bila ditemukan kesulitan dalam penggunaan anggaran terhadap pembangunan fisik JLNT tersebut.

“Saya kita kira itu niat baik, tidak ada niat jahat. Sesuai dengan prosedur perundangan yang berlaku. Tidak perlu takut. Jadi tidak ada ketakutan dari mereka. Makanya harus tertib betul proses perencanaan, penganggaran, pelaksanaan hingga penyerahan hasil. Untuk mencegah penyimpangan seawal mungkin. Jangan sampai diakhir diperiksa semuanya ada penyimpangan yang merugikan keuangan negara,” paparnya.

Seperti diketahui, pagu anggaran yang disiapkan untuk proyek ini sendiri sebesar Rp 2,5 triliun dengan pengerjaan secara multi-years atau tahun jamak. Ditargetkan akan rampung pada akhir tahun 2016.

Pengerjaan fisik proyek jalan layang bus Transjakarta koridor XIII rute Ciledug – Blok M – Jl Tendean dikerjakan delapan kontraktor untuk delapan paket.

Diantaranya, paket Tendean dikerjakan PT Adhi Karya, paket Santa itu PT Yasa Patrisia Perkasa, paket Trunojoyo itu PT Jaya Konstruksi, paket Taman Puring dikerjakan PT Hutama Karya, paket Kebayoran Lama itu PT PP (Pembangunan Perumahan).

Kemudian, paket Kostrad akan dikerjakan PT Istaka Karya CO bersama dengan PT Agra Budi. Lalu paket Ciledug dikerjakan PT Waskita Karya. Dan paket Seskoal dikerjakan oleh PT Wijaya Karya.

Jalan layang bus Transjakarta ini akan dibangun dengan ketinggian bervariasi antara 18 hingga 23 meter sesuai dengan letak dan tata ruang kondisi ruas jalan di bawahnya. Jalan layang tersebut dibangun dengan tujuan dapat membuat warga yang selama ini menggunakan kendaraan pribadi beralih ke bus Transjakarta. Jalan ini juga akan terintegrasi dengan MRT. Misalnya di Jalan Sisingamangaraja itu nanti ada halte yang bisa terintegrasi dengan MRT.(guruh)