Tuesday, 23 July 2019

Gali Menggali Jalan

Kamis, 21 Juli 2016 — 5:42 WIB

HARI-hari pasca Lebaran 2016 lintasan Jalan Gajah Mada, Jakarta didera macet luar biasa panjang. Penyebab adalah proyek perbaikan jaringan kabel listrik dan pipa air bersih.
Keduanya berada di bawah tanggung jawab perusahaan plat merah yakni PLN dan PDAM Jaya dalam hal ini Palyja. Proses pengerjaan oleh kontraktor siang hari.

Tanpa ada gali-menggali jalan, arus kendaraan pada urat-nadi perekonomian ini padat-merayap. Tentu saja kini mirip lapangan parkir. Menyulut keluh-kesah pengendara.

Walau demikian ditanggapi enteng oleh pemilik proyek. Saat dikonfirmasi suratkabar ini yang bersangkutan hanya minta dimaklumi disertai alasan aktivitasnya juga untuk kepentigan umum.
Jawaban demikian itu menurut hemat kita, lagu lama. Cermin arogansi. Mau mengeruk untung dengan ongkos kerja redah. Masa bodoh kepentingan umum lainnya jadi korban. Wow..!

Pengendara di Jalan Raya Siliwangi – Jalan Raya Padjajaran, Pamulang, Tangerang Selatan saja diberitakan koran ini, kemarin, banyak mengaku stres. Lalu lintas semwarut akibat pengecoran badan jalan yang tidak profesional.

Bila cara-cara serupa ditolerir, celakalah kota kita ini. Beban kemacetan tambah berat. Lalu kapan Jakarta bisa nyaman dan tertib lingkungan?

Kita patut acungi jempol pada pelaksana pembangunan konstruksi jaringan kereta bawah tanah dan Jalan Layang Non Tol Tendean – Ciledug, Jakarta Selatan. Walau sangat ribet daripada sekadar menanam kabel atau pipa, tapi bisa meninimalisir kemacetan.

Lebih-lebih perbaikan badan tol dalam kota dan busway dewasa ini selain memilh waktu sepanjang malam juga mengerahkan banyak pekerja dilengkapi peralatan modern. Lokasi proyek pada siang hari tiada aktivitas pekerja. Semua perlatan untuk sementara diungsikan ke tempat lain yang tak menimbulkan gangguan lingkungan.

Model pengerjaan serupa itu, meski biaya tinggi tapi paling cocok untuk Jakarta Baru. Lembaga perizinan di lingkungan pemprov, harus segera mencabut legalitas sekalian merekomendasikan kepada penegak hukum untuk penyetop pengerjaan proyek yag mengabaikan analisa mengenai dampak lingkungan (amdal)-nya seperti yang ada di Jl Gajah Mada itu.

Kesemrawutan di Pamulang saja menimbulkan stres banyak orang, apalagi di ibukota negara. Jangan dibiarkan berlarut-larut!***