Monday, 17 December 2018

Sakit Hati, Sakit Gigi atau Korupsi?

Sabtu, 23 Juli 2016 — 6:09 WIB
SENTILAN PAK SUS

LEBIH baik sakit gigi daripada sakit hati, itu kata Meggie Z, dalam senandungnya. Ini satu pilihan dilema, karena sama-sama sakit, sakit hati ya sakit, sakit gigi juga bukan main sakitnya.

Bang Jalil memegang pinya yang bengkak, akibat sakit gigi. “ Bapak nggak usah pilih, karena nggak ada pilihan kan?” kata sang istri tiba-tiba.

Sebelum Bang Jalil menjawab, sang istri sudah bicara lagi: “Tapi orang boleh memilih, biar pun sama sama sakit. Bisa saja memilih yang lebih rendah rasa sakitnya. Haruslah pandai pandai membandingkan. Misalnya, kalau disuruh memilih apakah hidup tua pensiun pas-pasan, tapi bahagia di rumah dengan  keluarga anak cucu? Atau hidup tua kaya raya, tapi hasil korupsi, yang ujung-ujungnya masuk penjara?  Nggak mau kan?” kata sang istri, panjang lebar.

Bang Jalil masih nggak menjawab. Mengangguk juga nggak.

“ Eh, jangan salah. Ada juga yang memilih yang kedua. Banyak pejabat yang sudah sepuh, yang seharusnya happy ending malah terperosok karena  salah pilih. Maunya tua kaya raya, dengan cara menyalah-gunakan kewenangannya, dan korupsi?” sang istri bicara kayak pengamat.

“ Mau lihat buktinya?” ujar sang istri lagi, “  Tuh, banyak kan orang-orang yang sudah tua terlibat kasus korupsi. Beberapa terdakwa rata-rata umurnya diatas lima puluh tahun, atau bahkan ada yang lebih dari enam puluh tahun. Mereka yang seharusnya sudah istirahat di rumah, masih berurusan dengan pengadilan Tipikor, dan berakhir di jeruji besi.”

“ Ini sebenarnya pilihan keliru, “ sang istri masih bicara,” Tapi, bagi orang-orang yang serakah nggak peduli dia muda atau tua renta, kalau serakah ya serakah. Nggak puas dan nggak bersyukur atas nikmat yag diberikan oleh Yang Maha Kuasa.”

Jadi ya, nikmati aja deh, mana yang lebih sakit; sakit gigi, sakit hati atau sakit dipenjara? “ Tapi, buat Bapak sekali lagi nggak ada pilihan.”

“ Kok begitu? “ tanya Bang Jalil, iseng.

“ Bapak kan cuma satpam. Kalau mau pensiun siapa yang kasih pensiun? Pilih korupsi, apa yang mau dikorupsi? Pentungan atau borgol?”

Bang Jalil tersenyum. Getir!    -massoes