Thursday, 20 September 2018

Suami Siri Banyak Mengatur, Akhirnya Masuk Liang Kubur

Sabtu, 23 Juli 2016 — 5:58 WIB
DIA 23 JULI 16

JADI suami abal-abal, mestinya Hamdi, 39, banyak tahu diri. Ternyata dia nggak. Pada istri sirinya, Napsiyah, 46, dia terlalu banyak mengatur.

Bini dekat dengan lelaki lain sudah cemburu luar biasa. Tapi yang apes tetap Napsiyah, melawan keegoan suami malah tewas dicekik dan dilempar ke parit kuburan.

Kawin siri banyak yang memplesetkan: sidikit risikonya. Sebab praktisi siri itu memang menghindari resiko hukum dan eknomi. Soalnya, dengan nikah resmi bisa kena palang pintu istri di rumah. Secara ekonomi, harus pakai walimahan dan mahar segala.

Secara hukum: dengan kawin siri, istri tak bisa menuntut hak waris. Karenanya kawin siri jadi pilihan, lantaran secara agama sudah sah. Ibarat mobil, sudah bisa dikendarai tanpa takut disemprit polisi.

Hamdi warga Cilebut Bogor, rupanya termasuk lelaki yang menjadi praktisi ilmu persirian. Di rumah sudah ada bini, kenal janda Napsiyah langsung napsu banget.

Maklum, meski sudah kepala empat dan lebih tua darinya, tapi masih nampak sekel nan cemekel. Ini tantangan baginya. Bagaimana rasanya “mbelah duren” bersama janda STNK. Pasti penuh sensasi dan menguras emosi, tapi jangan sampai finansi.

Mulailah dia mendekati janda yang tinggal di bilangan Depok itu. Agaknya Napsiyah juga sudah nggak tahan hidup kedinginan sepanjang malam. Mumpung ada “tamba anget” datang sendiri, langsung saja diterima cinta Hamdi.

Saking ngebetnya agar ranjang segera bergoyang, meski hanya mau dikawini secara siri, mau saja dia. Yang penting resmi, lalu mesin bisa dipanasi dan jalan ke mana-mana sesuka hati.

Hamdi bangga betul dengan perkawinan abal-abalnya itu. Punya “kendaraan” baru tanpa mengeluarkan banyak modal. Sekarang badannya juga nampak lebih bersih lagi, karena setiap hari sering mandi junub. Di bini pertama dapat jatah, mampir bini kedua juga masih mendapat alokasi asmara pula.

Napsiyah ini selain cantik, juga mudah bergaul, sehingga kenalannya banyak. Lama-lama ini jadi ancaman buat Hamdi, karena banyak pula lelaki yang dekat dengan istri sirinya tersebut. Dia sangat mencemaskan, dari kemahirannya bergaul lama-lama Napsiyah mau digauli lelaki lain. Kan kacau, “aset” negara dijarah bangsa asing.

Beberapa kali Hamdi sudah menegurnya, tapi tidak digubris. Jengkel juga pada akhirnya. Beberapa minggu lalu Napsiyah diajak jalan-jalan ke daerah Setu, Cibinong. Katanya cari udara segar, melihat pemandangan indah.

Nah sambil jalan-jalan itu kembali Hamdi mengungkit kedekatan Napsiyah dengan lelaki lain. Intinya, Hamdi ingin memproteks dan membatasi, agar istri sirinya itu tak banyak akses ke lelaki lain.

Rupanya Napsiyah marah dinasihati dan dibatasi geraknya. Jadi istri hanya dikawin siri saja kok ngaturnya macem-macem, kayak dikawin resmi lewat KUA saja. Katanya kemudian, sebagai istri siri harus memiliki kebebasan berekpresi, tak mau banyak dibatasi. “Kalau terlalu banyak mengatur, mending kita cerai saja.” Ancam Napsiyah.

Rupanya Hamdi tersinggung dengan kata-kata dan ancaman itu. Langsung Napsiyah dijedotin ke tembok dan kemudian dicekik hingga tewas. Mayatanya kemudian dilempar ke parit dekat kuburan Cina. Hamdi maunya kabur, tapi dalam waktu dekat bisa ditangkap dan mengakui segala perbuatannya. “Saya tersinggung dianggap suami abal-abal,” kata Hamdi pada petugas.

Lha memang iya, kawin abal-abal modalnya hanya alat vital. (JPNN/Gunarso TS)