Tuesday, 23 April 2019

HADIAHNYA DARI AHOK

Rabu, 27 Juli 2016 — 5:50 WIB

“Genap ganjil kapan diuji coba di daerah bekas three in one?” tanya Soleh begitu sampai di Pos RW.

“Nanti mulai berlakunya Agustus. Kabarnya ada yang sudah pesan nomor plat palsu,”kataku.

“Wah, jangan coba-coba. Nantinya bisa kena tilang dan hukuman pidana,” kata Lukman.

“Ya, kupikir apa pula gunanya. Masa mau niru-niru vaksin,” kata Soleh.

“Maksudnya apa?” desak Lukman.

“Ya, sekarang kan ramai-ramainya vaksin palsu,” kata Soeh.

“Sekarang ini apa saja dipalsu. Sudahlah ada KPK palsu, namanya gadungan. Ada wartawan palsu, namanya abal-abal,” kata Lukman.

“Yang lagi ramai soal kartu BPJS palsu. Bayar seratus ribu, dapat kartu BJPS. Nggak pakai bayar iuran,” kata Lukman.

“Namanya palsu mana pakai iuran segala,” kataku.

“Cuma masalahnya kalau sudah sempat digunakan dan tidak diketahui palsu,” kata Lukman.

“Rumah sakit jadi korban kalau sempat digunakan,” kataku.

“Kalau begitu betul-betul rumah sakit jadi sakit dong,” kata Soleh.

“Yang parah lagi ada,” kataku.

“Apa itu,” desak Lukman yang selalu main desak.

“Ini soal makam fiktif,” kataku.

“Apa lagi itu,” kembali Lukman mendesak.

“Ahok sudah perintahkan untuk diusut,” kataku.

“Ya, ceritanya begaimana sampai ada kuburan fiktif,” kata Soleh.

“Katanya ada kuburannya, sudah pakai batu nisan. Tapi mayatnya neggak ada,” kataku.

“Masya Allah, ada lagi. Jadi apa yang dikubur?” tanya Lukman.

“Ya nggak ada. Dan katanya jumlahnya banyak. Namanya ada, tapi waktu dicek orangnya hidup. Nanti kalau meninggal atau ada keluarganya yang meninggal, bisa dikubur di situ. Bayar. Nggak tahu berapa,” kataku.

“Ini petugasnya kreatif juga. Pantas dapat hadiah,” kata Soleh.

“Hadiah apa?” kataku.

“Ya kan orang kreatif perlu dihargai,” kata Soleh.

“Ya, tuggu saja hadiahnya dari Ahok,” kataku.

“Dipecat sudah syukur. Bagusnya diadili,” kata Lukman. (lubis1209@gmai.cm)