Monday, 19 November 2018

Tekat Besar Pangkalpinang Jadi Destinasi Wisata Utama di Indonesia

Rabu, 27 Juli 2016 — 19:28 WIB
Salah satu nuansa budaya China di kota Pangkalpinang. (ist)

Salah satu nuansa budaya China di kota Pangkalpinang. (ist)

JAKARTA (Pos Kota) –  Walikota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung (Babel), Muhammad Irwansyah punya tekat besar menjadikan daerah yang dipimpinnya sebagai salah satu destinasi wisata utama di Indonesia.

Untuk itu, dia mengundang sejumlah pihak yang paham pariwisata ke wilayahnya, dengan harapan  bisa mempromosi dan mencari potensi pariwisata di sana.

Salah satu yang diundang adalah pakar marketing yang juga CEO Markplus.Inc, Hermawan Kartajaya. Menurut Walikota, baru beberapa jam berkeliling, Hermawan mengakui Pangkalpinang memiliki potensi besar untuk menarik wisatawan namun belum dikembangkan. Ada suatu mutiara yang belum diasah di Pangkalpinang yaitu herritage Cina.

Walikota Irwansyah mengatakan, kehadiran Hermawan Kartajaya dalam rangka promosi dan mencari potensi pariwisata di Pangkalpinang.

“Ada informasi juga bahwa ada sekitar 140 juta  warga Cina yang keluar negeri untuk kepentingam pariwisata, tetapi yang  berkunjung ke Indonesia hanya satu juta orang. Padahal pariwisata Indonesia tidak kalah dengan negara lainnya,” kata Walikota Irwansyah dalam keterangan tertulis yang diterima media di Jakarta, Rabu (27/7).

Untuk mendukung kegiatan wisata, terutama menarik wisatawan Cina, Walikota Irwansyah juga berencana memberikan pelajaran tambahan bahasa Mandarin untuk siswa SMP dan SMA. Kedepannya akan menjadi pelajaran wajib.

“Tambahan pelajaran  bahasa Mandarin ini jg dalam rangka menghadapi masa depan dunia yang hanya akan didominasi dua poros yalni Amerika dan Cina,” katanya.

Kaitan Sejarah

Sementara itu, Hermawan tidak menyangka bahwa Pangkalpinang memiliki kaitan sejarah erat dengan Cina.  Oleh karena itu, banyak bangunan bersejarah yang berkaitan dengan Cina seperti kelenteng kuno Kwan Tie Miaw dan pekuburan Sentosa yang merupakan taman makam Cina terluas se-Asia Tenggara.

Dalam sejarahnya, ratusan tahun yang lalu, bangsa Cina datang ke Bangka untuk berburu timah. Merekalah yang mengajarkan teknik menambang timah secara tradisional kepada warga Bangka.

Hingga kini, mereka hidup berdampingan dengan warga dari etnis Melayu tanpa adanya gesekan. Kedua suku itu membaur dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan budaya dan agama kedua suku ini juga terus berjalan.

Untuk budaya Cina, kegiatan  yang rutin digelar setiap tahun yakni tradisi Peh Cun, ritual Ceng Beng dan pertunjukan barongsai. Sementara untuk budaya Melayu ada tradisi Nganggung, ruwahan, pawai ta’aruf dan sebagainya. (*/win)