Tuesday, 18 September 2018

Diminta Tutup Oleh Turki, Perwakilan Sekolah di Indonesia Merasa di Fitnah

Jumat, 29 Juli 2016 — 11:52 WIB
Siswa Sekolah Pribadi Depok mengikuti kegiatan di sekolah seperti biasa. (angga)

Siswa Sekolah Pribadi Depok mengikuti kegiatan di sekolah seperti biasa. (angga)

SEJUMLAH sekolah di Indonesia yang dianggap memiliki hubungan dengan Fethullah Gullen, diminta pemerintah Turki melalui Kedutaan Besar republik Turki (KBRT) untuk tak lagi beroperasi. Menanggapi hal tersebut,  perwakilan yayasan yang mengelola beberapa sekolah yang diminta tutup tersebut menyampaikan klarifikasinya.

“Sehubungan dengan rilis dari Kedutaan Besar Republik Turki (KBRT) untuk Indonesia di Jakarta pada tanggal 28 Juli 2016, melalu laman resmi Website dan akun resmi Facebook KBRT, kami dari Sekolah Pribadi Depok, Sekolah Pribadi Bandung, Sekolah Semesta Semarang, Sekolah Kharisma Bangsa, Sekolah Kesatuan Bangsa, Sekolah Fatih Banda Aceh, dan Sekolah Teuku Nyak Arif Fatih Banda Aceh, mohon diperkenankan menyampaikan klarifikasi terkait tudingan-tudingan yang mengarah kepada fitnah yang disampaikan pihak KBRT terhadap lembaga-lembaga pendidikan kami,” tulis pernyataan tersebut.

Pihak Yayasan Yenbu Indonesia, dalam pernyataannya mengatakan jika keberadaan sekolah-sekolah yang dituduhkan memiliki hubungan dengan Gulen, hanya tunduk dan taat kepada perundangan yang berlaku di Indonesia.

“Sekolah-sekolah yang didirikan dengan ijin dari Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten setempat juga Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia, dan dikelola oleh Yayasan-Yayasan yang berbadan hukum Indonesia (terdaftar dan mendapatkan pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia) sehingga keberadaannya tunduk dan taat terhadap peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia, bukan peraturan perundangan yang berlaku di negara lain,” tegas mereka.

Mereka juga mengatakan, jika sekolah-sekolah yang disebutkan, sudah tidak lagi memiliki hubungan kerjasama dengan lembaga Pasiad (lembaga pendidikan) dari Turki.  “Yayasan pernah menjalin kerja sama selama kurang lebih 20 tahun dengan Pasiad, sebuah lembaga swadaya swasta dari Turki dan kerja sama tersebut juga diketahui dan mendapatkan rekomendasi resmi dari Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia, sampai akhirnya kerjasama ini selesai terhitung mulai tanggal 1 November 2015. Dengan berakhirnya kerjasama tersebut maka sudah TIDAK ADA LAGI HUBUNGAN secara kelembagaan dengan lembaga Pasiad dari Turki,” paparnya.

Menyikapi rilis yang dikeluarkan KBRT, Yayasan kembali menegaskan, jika mereka merupakan lembaga pendidikan yang bergerak di bidang pendidikan dan bukan lembaga yang bergerak di bidang politik.

“Sekolah-sekolah kami tidak pernah mengajarkan kekerasan apalagi kegiatan yang mengarah kepada tindakan terorisme. Sekolah-sekolah ini kami bangun untuk anak-anak bangsa Indonesia (tidak membedakan suku, agama, ras dan antargolongan) dan sekolah-sekolah ini juga telah dikenal baik rekam jejaknya di Indonesia,” jelasnya.

Rencananya, yayasan-yayasan yang menaungi sekolah-sekolah tersebut, berencana mengambil langkah hukum. “Kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara terukur terhadap KBRT, sesuai hukum, norma dan etika yang berlaku. Langkah-langkah ini kami ambil karena kami yakin, negara kami, Indonesia adalah negara yang sangat demokratis dan memiliki kedaulatan sendiri serta selalu menjadikan hukum sebagai landasan utamanya.

Sementara itu, aktivitas belajar mengajar di Sekolah Pribadi Depok, hari ini Jumat (29/7/2016) berjalan normal. Sejumlah murid terlihat masih berada di lapangan sekolah untuk mengikuti kelas olahraga. (angga/embun)

  • Kusuma Bangsa

    Begitulah kalau penguasa gila kuasa, semua yang dicurigainya ingin dihajar tanpa pandang bulu termasuk yang tidak bersalah dan para guru2 bergaji kecilpun hendak disikatnya.