Sunday, 18 November 2018

Nasihat dari Melamun

Jumat, 29 Juli 2016 — 6:00 WIB
ngelamun

MELAMUN atau ngelamun itu asyik, kata orang. Tapi sebagian orang sering memperingatkan; ”jangan suka ngelamun, nanti bisa senewen,lo!”

Tapi, bolehlah berandai-andai kalau misalnya melamun sejenak.

Misalnya, melamun jadi orang miskin. Seorang lelaki bersama istri dan dua anaknya, hidup di satu tempat, di desa terpencil sana. Sang ayah bekerja di sawah sebagai buruh tani, dengan upah pas-pasan. Istrinya mengurus anak-anaknya, yang seharusnya sudah mulai sekolah tapi tak mampu memberi ongkos dan pakaian serta sepatu yang layak. Jangankan beli pakaian, untuk makan saja kurang.

Pagi makan, siang dan sore tertunda. Atau tidak sama sekali. Begitu seterusnya. Menderita banget ya?

Coba bayangkan enak nggak jadi orang miskin? Nggak kan? Nah, kalau begitu, nasihat yang didapat dari melamun adalah, kalau punya harta berlebih, cobalah beramal untuk para orang miskin yang jumlahnya masih sangat banyak.

Eh, barangkali kepingin melamun jadi koruptor, misalnya? O, boleh saja. Bayangkan, pagi-pagi menghitung-hitung, bisa dengan jari, kalkulator atau sempoa, berapa bagian keuntungan proyek fiktif hari ini? Atau berapa ratus juta uang suap yang bakal diterima di hotel atau restoran oleh si penyuap nanti siang atau malam?

Tapi nanti dulu, bayangkan juga, kalau sedang menerima suapan uang tiba-tiba petugas KPK nongol? Kemudian ditangkap, digiring dengan kedua tangan diborgol? Lalu muncul di layar TV, radio dan koran? Nama memang langsung terkenal, tapi dengan embel-embel ’kortuptor’. Mau? Bagi yang waras, nggak lah yauw?

Tapi bisa diambil nasihat dari lamunan barusan. Paling tidak bagi para pejabat, pegawai tinggi , hakim, jaksa, polisi, pengacara para menteri, anggota DPR, dll, mawas diri. Dan berani mengatakan; korupsi, NO! Kerja,YES!

Eh, barangkali mau ngelamun jadi orang gila? Ah, ada-ada saja! -massoes