Monday, 19 November 2018

Pengusaha Furniture Ditantang Berani Keluar Jawa

Jumat, 29 Juli 2016 — 0:31 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA (Pos Kota) – Pelaku industri furniture dan kerajinan nasional ditantang Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto untuk mengembangkan usahanya di luar Pulau Jawa sekaligus mendekati pusat bahan baku.

Langkah ini, kata Airlangga, akan mendorong efisiensi produksi, termasuk pemerataan industri dalam menumbuhkan ekonomi daerah.

“Daya saing industri furniture dan kerajinan Indonesia di pasar global terletak pada sumber bahan baku alami yang melimpah. Selama ini pasokan bahan baku berasal dari Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera,” tuturnya usai Pengukuhan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Industri Mebel dan Kerajian Indonesia (HIMKI) di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Kamis (28/7).

Bahkan, Menperin juga meminta pelaku industri membangun usahanya hingga ke daerah-daerah perbatasan sehingga mendekati pasar ekspor dan mengurangi kesenjangan ekonomi. “Jadi, lima tahun ke depan harus tersebar ke luar Jawa. Wilayah kita luas, jangan sampai terjadi ketimpangan di daerah perbatasan,” tegas Airlangga.

Selain didukung dengan ketersediaan sumber bahan baku berupa kayu, rotan, bambu dan bahan alami lainnya, potensi pengembangan daya saing industri furnitur dan kerajinan di Indonesia ditopang oleh keragaman corak dan desain yang berciri khas lokal serta SDM kompeten.

Oleh karena itu, Menperin menilai, industri furniture dan kerajinan merupakan salah satu industri prioritas karena mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dan berdaya saing global. “Selain itu, sebagai penghasil devisa negara serta menyerap tenaga kerja yang cukup signifikan,” tuturnya.

Perkembangan industri furnitur nasional mengalami kemajuan dalam beberapa tahun terakhir. Secara total pada tahun 2013, nilai ekspor furniture kayu dan rotan nasional mencapai 1,8 miliar dolar AS dan meningkat menjadi 1,9 miliar dolar AS tahun 2014. Sedangkan tahun 2015 menjadi USD 2 miliar dolar AS.

“Diprediksi nilai ekspor furniture kayu dan rotan olahan dalam lima tahun ke depan mencapai USD 5 miliar dolar AS,” ungkap Airlangga.(Tri)