Friday, 20 September 2019

Sekolah Pribadi Depok Akan Bersikap Kepada Pemerintah Turki

Jumat, 29 Juli 2016 — 15:24 WIB
Para siswa Sekolah Pribadi masih tetap melakukan kegiatan mengajar atau KBM setelah ada intruksi pemerintah Turki menutup kesembilan sekolah yang mengajarkan aliran teroris salah satunya sekolah Pribadi di Depok. (Angga)

Para siswa Sekolah Pribadi masih tetap melakukan kegiatan mengajar atau KBM setelah ada intruksi pemerintah Turki menutup kesembilan sekolah yang mengajarkan aliran teroris salah satunya sekolah Pribadi di Depok. (Angga)

DEPOK (Pos Kota) – Pihak sekolah Pribadi Bilingual Boarding School di Depok, merasa  terusik kredibilitasnya  dengan permintaan penutupan sekolah itu oleh pemerintah Turki, lewat Kedutaan Besarnya di Jakarta. Sebab, sekolah itu dikaitkan dengan kudeta gagal dan terorisme.

Untuk itu, pihak sekolah Pribadi Bilingual Boarding School di Depok, akan mengambil langkah terbaik dengan tudingan pemerintah Turki tersebut. Orang tua murid akan dikumpulkan.

Ini karena tudingan tersebut  selain sangat menganggu kredibilitas sekolah yang berdiri di Jalan Magonda, Depok,  juga  mengusik orang tua murid tersinggung memanciing emosional. Sekolah Pribadi Depok itu akan bersikap kepada pemerintah Turki.

(Baca: Turki Minta Tutup, Sekolah Pribadi: Izin Kami Dari Pemerintah RI)

“Besok (Sabtu) pihak yayasan baru akan memanggil para orang tua untuk melakukan rapat apa hal ini akan di bawah ke ranah hukum atau tidak yang jelas kita akan bersikap profesional kepada pemerintah Turki,” kata Juru Bicara Yayasan Yenbu Indonesia untuk SD, SMP, dan SMA Pribadi Depok, Ari Rosandi, Jumat (29/7).

Banyak Prestasi

Ia membeberkan, selama 21 tahun berdiri Sekolah Pribadi dan telah berhasil meluluskan 2000 murid dari SD, SMP dan SMA selama itu telah berhasil memperoleh siswa prestasi dan berhasil selalu mengikuti lomba pengetahuan di ajang Olimpiade.

“Tiap tahun kita memberikan beasiswa kepada 20 – 30 siswa untuk melanjutkan sekolah ke Turki. Sekolah kita juga menerima siswa non muslim,” ungkap Ari.

Sementara itu, salah seorang murid Ali,15, pelajar kelas 2 SMA pribadi menambahkan belajar sesuai dengan kurikulum pada umumnya. Dan tidak pernah mendapatkan pelajaran yang menyimpang seperti ajaran aliran islam garis keras.

“Saya dapat informasi tentang penutupan sekolah dari pemerintah Turki lantaran dianggap mengajarkan aliran teroris semua tuduhan itu tidak benar. Kita diajarkan sesuai materi yang kebanyakan pada umumnya tidak ada hubungan yang dituduhkan Turki,” tambahnya.

“Untuk ajaran dakwah kita dilakukan oleh ustadz dan tidak ada ajaran yang menyimpang juga,” ungkanya. (Angga/M13/win)