Thursday, 15 November 2018

Pembantu Baru

Sabtu, 30 Juli 2016 — 6:20 WIB
wargp

Oleh S Saiful Rahim
“GIMANA Mas, mau cari pembantu baru apa nggak?” tanya Dul Karung sambil melangkah masuk ke warung kopi Mas Wargo, setelah mengucap assalamu alaykum dengan fasih.

“Kok pake istilah baru? Apa Mas Wargo punya pembantu yang lama? Yang kita semua sudah tahu Mas Wargo hanya punya pengutang lama,” kata orang yang duduk di dekat pintu warung, seraya bergeser memberikan Dul Karung tempat untuk duduk di bangku panjang semata wayang yang ada di warung tersebut.

Mendengar seloroh itu beberapa orang hadirin mengulum senyum. Tapi Dul Karung memandangi orang yang telah memberi tempat duduk itu dengan sinar mata menyiratkan jengkel.

“Dulu, entah beberapa tahun lalu, sekembalinya dari mudik Lebaran, Mas Wargo membawa seorang keponakannya yang lalu dipekerjakan di sini. Entah apa sebabnya, keponakan tersebut kemudian pergi entah ke mana, dan tidak kembali lagi ke warung ini,” kata orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang, yang tampaknya suka sekali menggunakan kata “entah.”

“Benar itu, Mas?” tanya orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang, meminta keterangan sang pemilik warung kopi.

“Ya. Tapi kemudian dia kembali ke kampung dan bertani di sana,” jawab Mas Wargo seraya menyodorkan secangkir teh manis pada Dul Karung yang sedang mengunyah singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Berbeda dengan Sri Mulyani dong, yang telah menduduki kursi empuk di Bank Dunia namun beliau pulang untuk kembali berkeringat mengurus ekonomi dalam negeri yang meskipun tidak berombak tinggi, namun riaknya memusingkan,” tanggap orang berseragam safari seperti camat di masa Orde Baru.

Beberapa pasang mata dari orang-orang yang duduk di bangku panjang warung tersebut pun serempak mengalihkan pandangannya ke orang bersafari itu.

“Justru saya pikir sikapnya sama dengan Ibu Sri Mulyani. Kalau mau dianggap berbeda, ya beda-beda dikitlah,” kata Dul Karung sambil menyeruput habis tehnya.

“Persamaannya, walau sedikit, di mana Dul?” tanya orang yang duduk tepat di sisi kiri Dul Karung.

“Kalau Ibu Sri Mulyani pulang meninggalkan jabatannya yang empuk di Amerika Serikat, keponakan Mas Wargo pulang ke kampung meninggalkan jabatannya yang hangat di Ibukota,” kata Dul Karung dengan yakin, tapi justru memunculkan tanda tanya di banyak benak pendengarnya.

“Apa maksudmu dengan jabatan yang hangat, Dul?” tanya beberapa orang serempak dan sama-sama heran.

“Jabatan keponakan Mas Wargo dulu itu kan jadi asisten atau pembantu Mas Wargo di dapur. Itu kan jabatan yang hangat karena selalu tak jauh dari kompor,” jawab Dul Karung seenaknya, membuat beberapa penanya tersenyum, dan beberapa yang lain cemberut.

“Terlalu kau, Dul! Para menteri yang seringkali menyebut dirinya sebagai pembantu presiden itu kau samakan dengan pembantu di warung kopi ini?” kata orang yang entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Ya tidaklah! Kalau begitu kan akan-akan aku anggap Mas Wargo sama dengan presiden. Apa kalian semua mau punya presiden seperti Mas Wargo? Kalau aku sih, tidaklah yaw,” kata Dul Karung sambil, seperti biasa, pergi dengan begitu saja tanpa membayar apa yang telah dimakan dan diminumnya pada hari itu. (syahsr@gmail.com )