Friday, 21 September 2018

10 Ribu Pekerja India di Arab Saudi Terancam Kelaparan

Senin, 1 Agustus 2016 — 16:05 WIB
Makanan didistribusikan di Jeddah pada Sabtu (30/7).

Makanan didistribusikan di Jeddah pada Sabtu (30/7).

ARAB SAUDI- Lebih dari 10 ribu warga India yang terkena PHK di Arab Saudi dilaporkan tengah menghadapi ‘krisis makanan,’ menurut Menteri Luar Negeri India, Sushma Swaraj.

Sushma Swaraj mengatakan ‘sejumlah besar’ warga India kehilangan pekerjaan di Arab Saudi. Hal ini membuat mereka tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan.

Untuk menghadapi situasi ini, masyarakat India di Jeddah, dengan bantuan pemerintah, mendistribusikan makanan kepada warga India yang membutuhkan pada akhir pekan.

Pemecatan ribuan warga India ini seiring dengan melambatnya laju ekonomi Arab Saudi akibat harga minyak terus merosot.

Swaraj mengimbau dalam Twitter agar tiga juta masyarakat India di Arab Saudi dapat ‘membantu saudara sebangsanya’ yang sedang membutuhkan makanan.

“Saya pastikan pekerja India yang terkena PHK di Arab Saudi tidak akan kekurangan makanan,” tulisnya.

Seorang menteri telah diterbangkan ke Arab Saudi, kata Swaraj. Dia diharapkan bisa membantu untuk mengatur pemulangan warga India yang tidak mampu membeli tiket pesawat.

Konsulat India di Jeddah mengatakan telah mendistribusikan lebih dari 15 ribu kilogram makanan dengan bantuan warga negara India, pada Sabtu (30/7).

Kedutaan di Riyadh juga telah diminta agar mendistribusikan makanan sebanyak yang mereka mampu.

Berdasarkan laporan dari pemerintah India, 800 pekerja mereka telah kehilangan pekerjaan di Saudi Oger, perusahaan konstruksi besar Saudi-Lebanon.

Menurut media Arab, Arab News melaporkan ratusan karyawan Saudi Oger mengaku belum menerima gaji selama tujuh bulan. Situasi ini menyebabkan aksi protes di Jeddah.

Pemerintah Saudi belum mengomentari tentang situasi pekerja India ini.

Kelompok HAM Human Rights Watch pernah mengecam Arab Saudi atas “maraknya pelanggaran majikan terhadap pekerja migran, termasuk memaksa mereka untuk bekerja di luar kehendak mereka atau eksploitatif.”

Sebuah sistem visa yang mengikat tempat tinggal para pekerja dengan pekerjaan mereka “memberi kekuasaan lebih bagi para majikan atas pekerja dan memfasilitasi bentuk penyalahgunaan”, kata kelompok itu.

Para pekerja yang terkena PHK di Kuwait juga menderita krisis makanan, namun Swaraj mengatakan situasi di sana lebih mudah dikendalikan, tambahnya.(BBC)