Saturday, 24 June 2017

Menteri Desa Siap Jadi Marketing Manager Daerah Tertinggal

Sabtu, 6 Agustus 2016 — 14:57 WIB
Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo didampingi pejabat eselon I dan 2 menerima kunjungan Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly beserta Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (HIMNI)  (tri)

Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo didampingi pejabat eselon I dan 2 menerima kunjungan Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly beserta Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (HIMNI) (tri)

JAKARTA (Pos Kota) – Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo menegaskan dirinya siap menjadi marketing manager daerah tertinggal.

Janji tersebut dia sampaikan saat menerima kunjungan dari Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (HIMNI), di Kantor Kemendes PDTT di Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (5/8).

Pada kesempatan itu Mendes PDTT Eko Putro dicurhati oleh  empat kepala Daerah dari Kepulauan Nias. Mulai dari kurangnya pembangunan infrastruktur, hingga pengembangan daerah Kepulauan Nias yang ingin didorong menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Mendapatkan curhatan dari HIMNI yang dipimpin langsung oleh Ketuanya Marinus Gea, Menteri Eko berjanji akan melakukan roadshow ke kepulauan Nias sebagai salah satu daerah terluar dengan membawa pihak swasta untuk melihat dan mengembangkan potensi yang ada didaerah kepulauan yang masih masuk kategori daerah tertinggal tersebut.

“Saya punya job jadi marketing manager daerah tertinggal salah satunya di Nias. kita nanti akan roadshow dengan pihak swasta untuk melihat potensi yang ada di Nias,” ujar Eko.

Menurut Eko, Kementerian Desa harus bekerjasama dengan semua stakeholder untuk mengembangkan 74.754 desa yang ada di seluruh Indonesia. “Dengan coverage yang sedemikian besar, tidak mungkin kita bisa menyelesaikan sendiri. Harus ada dukungan dari semua stakeholder terutama pemerintah daerah untuk berperan aktif dalam membangun desa,” ucapnya.

Menteri Eko dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan pentingnya membuat produk unggulan desa di Kepulauan Nias. Dengan adanya fokus tertentu ke produk unggulan, imbuh Eko, masyarakat bisa mendapatkan ekonomi of skill nya.

“Banyak desa yang tidak fokus ke produk unggulan. Menanam padi sedikit, Jagung sedikit, tebu sedikit jadi tidak ada economi of skill,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, Walikota Gunung Sitoli, Lakhomizoea Zebua, mengeluhkan kurangnya infrastruktur desa. Menurutnya salah satu kendala yang terjadi di Kepulauan Nias adalah masih kurangnya jalan poros yang menghubungkan antara desa satu dengan desa yang lain.

“Oleh karena itu, kami meminta kepada Kementerian Desa, untuk memberikan bantuan berupa alat berat agar bisa mempercepat pembangunan jalan di Gunung sitoli dan kepaluan Nias secara umum,” keluhnya. (Tri/win)